Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Buletin >> Buletin Nomor 5 Tahun 2011 >> Teknologi penyusunan ransum penggemukan sapi potong


Teknologi Penyusunan Ransum Penggemukan Sapi Potong

PENDAHULUAN

Dalam penyusunan ransum, harus diusahkan agar kandungan zat makanan di dalam ransum sesuai dengan zat-zat makanan yang dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, untuk pertumbuhan, dan untuk produksi. Dapat dikatakan bahwa sangat sulit untuk mendapatkan satu jenis bahan pakan yang kandungan zat-zatnya sesuai dengan kebutuhan ternak. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi beberapa jenis bahan pakan untuk disusun menjadi suatu ransum yang seimbang.

Dalam memilih bahan pakan, terdapat beberapa pengetahuan penting yang harus diketahui sebelumnya, yakni sebagai berikut :

  1. Bahan pakan harus mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat didaerah sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah ongkos transportasi dan kesulitan mencarinya.
  2. Bahan pakan harus terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dan dalam jumlah mencukupi keperluan.
  3. Bahan pakan harus mempunyai harga yang layak dan sedapat mungkin mempunyai fluktuasi harga yang tidak besar.
  4. Bahan pakan harus diusahakan jangan bersaing dengan kebutuhan manusia yang sangat utama. Seandainya harus menggunakan bahan pakan yang demikian , usahkan agar bahan pakan tersebut hanya terdiri dari satu macam saja.
  5. Bahan pakan harus dapat diganti oleh bahan pakan lain yang kandungan zat-zat makanannya hampir setara.
  6. Bahan pakan tidak mengandung racun dan tidak dipalsukan atau tidak menampakkan perbedaan warna, bau atau rasa dari keadaan normalnya.  Bahan pakan harus ASUH (aman-sehat-utuh-halal)   Dalam menyusun ransum, hal-hal berikut harus ditentukan terlebih dahulu, antara  lain :
  7. Bahan yang harus tersedia dan harus diketahui hasil analisis zat-zat makanannya. Komposisi zat-zat makanan tersebut dapat diketahui dari daftar analisis zat-zat makanan. Akan tetapi, yang terbaik adalah dari hasil analisis laboratorium.
  8. Mengetahui kelas, tingkat umur, produksi, dan kondisi fisiologis ternak sapi yang bersangkutan. Dengan demikian, diketahui jumlah kebutuhan untuk hidup pokok, pertumbuhan, dan produksinya.
  9. Mengetahui data kebutuhan tiap zat makanan untuk keadaan ternak sapi yang bersangkutan.
  10. Tentukanlah atas dasar apa penyusunan ransum tersebut dilakukan. Apakah berdasarkan kandungan energi dan proteinnya, jumlah zat makanan dapat dicerna (total digestible nutrient/TDN), atau yang lainnya.
  11. Harus diketahui margin of safety (batas pemberian dari suatu bahan pakan yang tidak membahayakan ternak) dari bahan pakan tersebut karena adanya faktor-faktor pembatas yang mempengaruhi kebutuhan akan pakan, seperti perbedaan kualitas bahan pakan, penyimpanan, pengolahan ataupun suhu.
  12. Usahkan bahan pakan terdiri atas bahan pakan sumber nabati dan bahan pakan sumber hewani agar dapat saling menutupi kekurangan.

TEKNIK PENYUSUNAN RANSUM SAPI POTONG

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa cara penyusunan ransum ternak sapi, antara lain sebagai berikut :

a. Metoda rancang coba

Metode rancang coba adalah metode dengan cara mencoba-coba merancang penyusunan ransum, yakni berdasarkan perkiraan zat-zat makanan ransum yang mendekati kebutuhan zat-zat makanan ternak yang bersangkutan. Apabila setelah dihitung ternyata masih belum tepat, komposisi ransum bahan pakan tersebut diubah kembali dengan logika kira-kira, yakni mana yang harus ditambah dan mana yang harus dikurangi. Begitu seterusnya hingga kandungan zat-at makanan mendekati kebutuhan (kuswandy dkk, 2002) .

Metode ini sebaiknya dilakukan dengan dasar kebutuhan satu atau dua macam kriteria saja, misalnya hanya berdasarkan protein dan energi. Apabila dasar kebutuhan yang akan disamakan lebih penyusunan, sebaiknya peternak lebih memiliki suatu susunan berbeda kandungan zat-zat makanannya dengan yang diinginkan.

Sebagai contoh, akan dicoba untuk menyusun ransum  penggemukan sapi betina muda yang bobot badannya 100 kg dan pertambahan bobot badan yang diharapkannya sebesar 0,7 kg/hari dengan kandungan protein 14,4% dan energy metabolis (ME) 2.500 kkal/kg.

Bahan Pakan Protein Energi Metabolisme
Jagung Kuning 6,1 % 2.150 kkal/kg
Bekatul Padi 14,0 % 3.320 kkal/kg
Bungkit Kelapa 21,6 % 2.850 kkal/kg
Kacang Kedelai 48,0 % 2.990 kkal/kg
Ikan Kering 66,5 % 2.990 kkal/kg

Dengan mengetahui kandungan bahan pakan di atas maka susun ransum sebanyak 100 kg dengan metode rancang coba sebagai berikut :

Bahan Pakan Protein Energi Metabolisme
35 kg Jagung kuning 2,84 % 752,5 kkal/kg
50 kg Bekatul padi 7,00 % 1.660,0 kkal/kg
5 kg Bungkit kelapa 1,08 % 142,5 kkal/kg
5 kg Kacang kedelai 2,49 % 149,5 kkal/kg
5 kg Ikan kering 3,33 % 145,0 kkal/kg
100 kg ransum 16,5 % 2,849,5 kkal/kg
Kebutuhan 14,40 % 2.500,0 kkal/kg

 

Bahan Pakan Protein Energi Metabolisme
65 kg Jagung kuning 5,27 % 1.397,5 kkal/kg
20 kg Bekatul padi 2,80 % 664,0 kkal/kg
5 kg Bungkit kelapa 1,08 % 142,5 kkal/kg
5 kg Kacang kedelai 2,49 % 149,5 kkal/kg
5 kg Ikan kering 3,33 % 145,0 kkal/kg
100 kg ransum 14,88 % 2,498,5 kkal/kg
Kebutuhan 14,40 % 2.500,0 kkal/kg

Dari hasil rancang coba, ternyata ransum memiliki kandungan protein (16,65 vs 14,40) dan kandungan energi (2.849,5 vs 2.500,0) terlalu tinggi. Oleh karena itu, komposisi ransum harus diubah kembali dengan mengurangi bahan pakan yanga cukup tinggi proteinnya dan sangat tinggi energinya. Dari bahan pakan diatas, yang kandungan proteinnya cukup tinggi dan energinya sangat tinggi adalah bekatul padi. Oleh karena itu, coba dikurangi dari 50 kg menjadi 20 kg dan tambahkan pengurangan tersebut pada jagung kuning yang kandungan protein dan energinya rendah, yaitu dari 35 kg menjadi 65 kg. Dengan perubahan komposisi bahan pakan tersebut, susunan ransumnya menjadi sebagai berikut.

 

Bahan Pakan Protein Energi Metabolisme
65 kg Jagung kuning 5,27 % 1.397,5 kkal/kg
21 kg Bekatul padi 2,94 % 697,2 kkal/kg
5 kg Bungkit kelapa 1,08 % 142,5 kkal/kg
5 kg Kacang kedelai 2,49 % 149,5 kkal/kg
4 kg Ikan kering 2,66 % 116,0 kkal/kg
100 kg ransum 14,35 % 2.502,7 kkal/kg
Kebutuhan 14,40 % 2.500,0 kkal/kg

Dari perhitungan tersebut, tampak bahwa sebenarnya susunan ransum yang baru tersebut sudah hampir sama dengan kebutuhan, terutama kandungan energinya (2.498,5 vs 2.500,0) tetapi kandungan proteinnya 14,88 vs 14,40) masih sedikit tinggi. Bila susunan ransum tersebut akan digunakan sebenarnya sudah cukup baik, tetapi bila masih penasaran, dapat dicoba kembali untuk menurunkan kandungan proteinnya ( Murtidjo,1995). Caranya adalah padi dengan mengurangi bahan pakan yang tinggi proteinnya, kemudian ditambahkan ke bahan pakan yang lebih rendah kandungan proteinnya. Sebagai contoh, akan dicoba kembali untuk mengurangi ikan kering dari 5 kg menjadi 4 kg dan ditambahkan ke bekatul padi dari 20 kg menjadi 21 kg. Perubahan komposisi bahan pakan untuk kedua kalinya menghasilkan susunan ransum seperti berikut.

Bahan Pakan Protein Energi Metabolisme
65 kg Jagung kuning 5,27 % 1.397,5 kkal/kg
21 kg Bekatul padi 2,94 % 697,2 kkal/kg
5 kg Bungkit kelapa 1,08 % 142,5 kkal/kg
5 kg Kacang kedelai 2,49 % 149,5 kkal/kg
4 kg Ikan kering 2,66 % 116,0 kkal/kg
100 kg ransum 14,35 % 2.502,7 kkal/kg
Kebutuhan 14,40 % 2.500,0 kkal/kg

Dari hasil di atas, kini tampak bahwa protein (14,35 vs 14,40) dan energi (2.502,7 vs 2.500,0) relatif telah sesuai dengan kebutuhan ternak yang dimaksudkan. Dengan demikian, selesailah susunan ransum menggunakan metode rancang coba dan hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut :

Bahan Pakan Persentase (%)
Jagung kuning 65
Bekatul padi 21
Bungkit kelapa 5
Kacang kedelai 5
Ikan kering 4
Jumlah 100

Untuk memperoleh jumlah ransum dalam kg, dapat dihitung sesuai dengan persentase tersebut. Kelemahan dari penggunaan rancang coba ini adalah memakan waktu yang lama karena tidak jarang untuk mencapai angka yang sesuai dengan kebutuhan ternak harus dilakukan berulang kali.

b. Metode segi empat pearson

Penyusunan ransum dengan metode segi empat pearson atau pearsons square lebih mudah dan sederhana. Namun, penyusunannya hanya berdasarkan satu criteria, misalnya berdasarkan kandungan protein, energy, atau TDN saja (Siregar,1994). Hal yang harus diingat dalam memilih bahan pakan  pada metode ini adalah pakan yang satu harus mempunyai kandungan lebih tinggi dari yang diharapkan dan yang satunya lagi harus mempunyai kandungan yang lebih rendah dari yang diharapkan. Berikut simulasi cara menyusun ransum berdasarkan metode segi empat pearson.

1. Apabila kita akan menyusun ransum dengan kandungan protein 15% dari dua macam bahan, yaitu jagung kuning (protein 6,1 %) dan ikan kering (protein 66,5 %). Langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

- Buatlah segi empat beserta diagonalnya.
- Tuliskan kandungan protein yang diinginkan dari ransum yang akan disusun pada pusat bidang empat tepat pada diagonalnya, dalam hal ini adalah angka 15 %.
- Tuliskan kandungan protein bahan I (jagung kuning) pada sudut atas sebelah kiri segi empat tersebut, yaitu angka 6,1 %.
- Tuliskan kandungan protein bahan II (ikan kering) pada sudut bawah sebelah kiri segi empat tersebut, yaitu angka 66,5 %
- Kurangkanlah angka dari masing-masingsudut kiri tersebut terhadap angka yang terdapat pada pusat segi empat .

Tuliskan hasil selisih pada masing-masing sudut kanan segi empat tersebut searah dengan garis diagonalnya.  Dalam hal ini angka pada sudut kanan atas (66,5 – 15 = 51,5) merupakan bagian dari jagung kuning, kemudian pada sudut kanan bawah (15-6,1=8,9) merupakan bagian dari ikan kering.

- Dari 100 kg ransum tersebut dapat dihitung kandungan jagung kuning dan ikan keringnya sebagai berikut.

- Dengan demikian, kandungan protein dari 100 kg susunan ransum tersebut adalah sebagai berikut.

2. Apabila akan menyusun ransum dengan kandungan protein 15 % dari tiga macam bahan pakan, misalnya tersususn dari bahan pakan berupa jagung kuning (protein 6,1 %), bekatul (protein 14,0%), dan bungkil kelapa (protein 21,6 %), langkah-langkah penyusunannya adalah sebagai berikut: Susun dahulu dari 2 (dua) bahan ransum (usahkan yang kandungan proteinnya dibawah kebutuhan) sebanyak 100 kg dan hitung kandungan proteinnya yang terbentuk, misalknya sebagai berikut.

- Buatlah segiempat dan diagonalnya dengan criteria yang diharapkan pada pusat bidang (15%)
- Tuliskan kriteria bahan I (terdiri dari jagung kuning dan bekatul padi hasil dari penyusunan pada poin 1 yaitu dengan kandungan protein 10,05 %) pada sudut kiri atas.
- Tuliskan kriteria bahan II (bahan yang belum disusun diatas, yaitu bungkil kelapa) pada sudut kiri bawah (21,6%).
- Tuliskan masing-masing perbedaan nilai criterianya pada sudut kanan diagonalnya

- Berdasarkan hasil dari segi empat diatas, dapat disusun data ransum sebagai berikut.

Jagung kuning    :    3,3 bagian (50% dari susunan bahan I)
Bekatul padi    :    3,3 bagian (50% dari susunan bahan I)
Bungkil kelapa    :     4,95 bagian

- Banyaknya bahan yang digunakan adalah sebagai berikut.

- Susunan ransum tersebut menjadi sebagai berikut.

3. Apabila penyusunan ransum sebanyak 100 kg dengan kandungan protein 15 % dengan empat macam bahan pakan, yakni jagung kuning (protein 8,1 %); bungkil kelapa (protein 21,6%); bekatul padi (protein 14,0%); dan ikan kering (protein 66,5 %). Langkah-langkah penyusunannya adalah sebagai berikut.

- Susun dahulu dua macam bahan yang tersedia sebanyak 50 kg (ambil bahan yang kandungan proteinnya berada dibawah yang diharapkan) seperti berikut ini.

- Dari hasil perhitungan diatas, telah tersedia bahan sebanyak 50 kg dengan kandungan protein 7,70 %. Dengan demikian, untuk menyusun ransum sebanyak 100 kg, masih diperlukan 50 kg bahan pakan dengan persentase protein 6,90 % (15 – 7,70 = 7,30). Artinya, masih diperlukan sebanyak 14,6 % (7,70/50 x 100%).
- Buatlah kembali segi empat beserta diagonalnya. Tulislah angka persentase protein yang masih dibutuhkan tersebut, yaitu 14,6 pada pusat segi empat.
- Tulislah kandungan protein bekatul padi, yaitu 14,0 pada sudut kiri atas.
- Tulislah kandungan protein ikan kering, yaitu 66,5 pada sudut kiri bawah.

- Lakukan pengurangan dan tuliskan hasilnya pada setiap sudut kanan masing-masing diagonalnya.
- Jumlah bekatul padi dan ikan kering yang diperlukan adalah sebagai berikut.

- Dengan demikian, susunan ransum tersebut adalah sebagai berikut.

Dalam metode segi empat pearson ini, bila akan menyusun ransumdengan bahan pakan yang jumlahnya ganjil, misalnya 5, 7 atau 9 macam, penyusunannya mengacu kepada metode penyusunan 3 bahan.  Sementara bila akan menyusun dengan bahan pakan yang jumlahnya genap, misalnya 6,8 atau 10 macam, penyusunannya mengacu kepada metode penyusunan dengan menggunakan 4 bahan.

c. Metode aljabar

Metode ini hampir sama dengan metode segi empat pearson. Hanya saja, metode ini membutuhkan sedikit perhitungan matematika dalam bentuk persamaan ( Zainal Abidin, 2002)

Untuk mencapai susunan ransum dari dua jenis bahan pakan berupa jagung kuning dan ikan kering dengan protein 15 %, langkah pengerjaan metode aljabarnya adalah sebagai berikut.

1)    Misalkan x = jumlah bagian jagung kuning, Sedangkan y = jumlah bagian ikan kering.
2)    X + y = 100 % (dengan kandungan protein ransum 15 %).
3)    Masukkan kandungan protein masing-masing bahan pakan ke dalam persamaan. Dalam hal ini, kandungan protein jagung kuning adalah 6,1 % dan kandungan ikan kering adalah 66,5 %. Dengan demikian, persamaannya menjadi 0,061 x +o,665 y = 15.
4)    Gantilah x dengan bilangan 100 – y sehingga persamaan berubah menjadi :

Artinya, kandungan ikan kering pada ransum tersebut adalah 14,725 %

5) Penghitungan kandungan jagung kuningnya adalah sebagai berikut sebagai
X = 100 – 14,725 = 85,275 %
Dengan demikian, kandungan jagung kuning pada ransum tersebut adlah 85,275

6) Dari 100 kg ransum tersebut dapat dihitung jumlah jagung kuning dan ikan keringnya.

- Jagung kuning sebanyak 85,275 kg dengan protein 5,2 %
- Ikan kering sebanyak 14,725 kg dengan protein 9,8 %
- Jumlah ransum 100,00 kg dengan protein 15 %

d. Metode komputer

Metode ini sangat mudah dan cepat dilakukan dan hasil yang diberikan pun sangat akurat. Akan tetapi, untuk melakukannya diperlukan keterampilan dalam menggunakan komputer. Program yang lazim dipergunakan dalam penyusunan ransum dengan metode komputer adalah LP (linier programming). Namun, dalam penyusunan model serta operasionalnya, kadang kala berbeda bagi setiap pengguna program. Hal ini karena dalam penyusunannya diperlukan ketersediaan perangkat komputer beserta programnya. Dibawah ini  hanya akan dikemukakan langkah-langkah utamanya saja, yakni sebagai berikut.

  1. Masukkan data tentang semua bahan pakan yang dapat dipergunakan sebagai bahan ransum berikut harga dan kandungan zat-zat makanannya dalam limit terbawah dan teratas.
  2. Program data tersebut sesuai dengan prosedur program komputer yang digunakan berikut dengan data perintahnya.
  3. Bila akan menyusun ransum yang terdiri dari dua macam bahan, masukkanlah perintah dalam bentuk kode tertentu yang sesuai dengan program. Umpamanya, bahan pakan yang akan digunakan adalah rumput gajah dan dedak, masukkan kode X1 untuk rumput gajah dan kode X2 untuk dedak.
  4. Masukkan perintah ke komputer untuk menyusun ransum yang terdiri dari dua macam bahan pakan tersebut dan sistem apa yang mendasarinya, misalnya protein dan energi diprogram sesuai dengan yang diharapkan.
  5. Bila data telah selesai diproses, komputer akan memberikan hasil berupa susunan ransum yang tepat berikut dengan harganya.

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Penyusunan Ransum seimbang pada penggemukan sapi potong dapat menghemat waktu dan biaya dengan pendapan yang optimal. Demikian juga dengan pengetahuan teknik menyusun ransum yang menggunakan limbah pertanian akan memberikan kemudahan bagi peternak untukmelakukan penggemukan dalam skala ekonomi atau dalam jumlah yang lebih banyak.
  2. Disarankan agar supaya teknologi penyusunan ini bijaksana dalam menggunakan bahan pakan yang dimanfaatkan tidak bersaing dengan kebutuhan manusi

DAFTAR PUSTAKA

AAK ,1991. Petunjuk beternak sapi potong. Penerbit Kanisius,  Jogyakarta.

Murtidjo, B.A.1995. Beternak Sapi Potong.Penerbit Kanisius,Yogyakarta.

Kuswandi, Chalid danTati Sugiarti, 2002.  Performans Sapi dara yang diberikan konsentrate mengandung dedak padi dan gandum . Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner Puslitbang Peternakan, Bogor.

Siregar, B.S., (1994).  Ransum ternak ruminansia, Penerbit swadaya masyarakat.

Zainal Abidin, (2002), Kiat mengatasi permasalahan praktis penggemukan sapi potong, Penerbit PT. Agro Media Pustaka, Jakarta Selatan.

Zainal Abidin, (2008),  Teknik mempersiapkan, mendirikan dan menjalankan usaha penggemukan sapi potong.  Penerbit PT. Agromedia Pustaka, Jakarta Selatan.

Penulis : Matheus Sariubang. Novia Qomariah, Repelita Kallo

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 06 Desember 2012 10:00
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com