Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Buletin >> Buletin Nomor 5 Tahun 2011 >> Memahami modal sosial dalam pembangunan pertanian


Pada saat ini, semakin banyak  pihak yang memberikan perhatian yang besar terhadap modal social dalam pembangunan pertanian dari praktek aktivitas-aktivitas social capital yang dibentuk dan dilembagakan oleh warga masyarakat local. Para ahli telah meyakini dan menyepakati bahwa capital-capital yang ada dalam masyarakat (human capital, institutions dan social capital) bukan sekedar konvensional capital yang berupa modal fisik, namun capital non-fisik tersebut memiliki kemampuan memberikan kontribusi yang signifikan dalam proses pembangunan masyarakat yang semakin meluas, terutama di bidang pertanian.

Modal sosial merupakan sumberdaya sosial yang dapat dipandang sebagai investasi untuk mendapatkan sumberdaya baru dalam masyarakat. Oleh karena itu modal sosial diyakini sebagai salah satu komponen utama dalam menggerakkan kebersamaan, mobilitas ide, kesalingpercayaan dan kesaling menguntungkan untuk mencapai kemajuan bersama. Fukuyama (1999) menyatakan bahwa modal  sosial memegang peranan yang sangat penting dalam memfungsikan dan dan memperkuat kehidupan masyarakat modern. Di dalamnya merupakan komponen cultural bagi kehidupan masyarakat modern. Berbagai permasalahan dan penyimpangan yang terjadi di berbagai Negara,  determinan utamanya adalah kerdilnya modal sosial yang tumbuh di tengah masyarakat. Modal sosial yang lemah akan meredupkan semangat gotong royong, memperparah kemiskinan, meningkatkan pengangguran, kriminalitas, dan menghalangi setiap upaya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk.

Pengertian

Beberapa defenisi modal social : Fukuyama (1995) mengatakan bahwa modal sosial adalah kemampuan yang timbul dari adanya kepercayaan (trust) dalam sebuah komunitas. Suharto, 2007 mengartikan modal sosial sebagai sumber (resource) yang timbul dari adanya interaksi antara orang-orang dalam komunitas. Pengukuran modal sosial sering dilakukan melalui hasil interaksi tersebut, seperti; terpeliharanya kepercayaan antar warga masyarakat. Interaksi dapat terjadi dalam skala individual maupun institusional. Dalam skala individual interaksi terjadi pada relasi intim antara individu yang menghasilkan ikatan emosional. Dalam skala institusional, interaksi terjadi pada saat beberapa organisasi memiliki kesamaan visi dan tujuan.

Modal sosial adalah konsep yang muncul dari hasil interaksi di dalam masyarakat dengan proses yang lama. Meskipun interaksi terjadi karena berbagai alasan, orang-orang berinteraksi, berkomunikasi, dan kemudian menjalin kerjasama pada dasarnya dipengaruhi oleh keinginan untuk berbagi cara untuk mencapai tujuan bersama yang tidak jarang berbeda dengan tujuan dirinya sendiri. Keadaan ini terutama terjadi pada interaksi yang berlangsung relative lama. Interaksi semacam ini melahirkan modal sosial; berupa ikatan-ikatan emosional yang menyatukan orang untuk mencapai tujuan bersama, yang kemudian menumbuhkan kepercayaan dan keamanan yang tercipta dari adanya relasi yang relative panjang.

Modal sosial akan tumbuh dan berkembang kalau digunakan bersama dan akan mengalami kepunahan kalau tidak dilembagakan secara bersama, oleh karena itu, pewarisan nilai modal sosial dilakukan melalui proses adaptasi, pembelajaran, serta pengalaman dalam praktek nyata (bukan pewarisan genetik)

Unsur-unsur modal sosial, menuruta Blakeley dan Suggate (1977), dalam Suharto (2007) menyatakan bahwa unsur-unsur modal sosial adalah :

  1. Kepercayaan:Tumbuhnya sikap saling percaya antar individu dan antar institusi dalam masyarakat
  2. Kohesifitas:Adanya hubungan yang erat dan padu dalam membangun solidaritas masyarakat
  3. Altruisme:Paham yang mendahulukan kepentingan orang lain. Perasaan tidak egois dan tidak individualitik yang mengutamakan kepentingan umum dan orang lain di atas kepentingan sendiri.
  4. Gotong-royong: Sikap empati dan perilaku yang mau menolong orang lain dan bahu membahu dalam melakukan berbagai upaya untuk kepentingan bersama
  5. Jaringan, dan kolaborasi social :\Membangun hubungan dan kerjasama antar individu dan antar institusi baik di dalam komunitas sendiri/ kelompok maupun di luar komunitas/ kelompok dalam berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ridell, (1997)  dalam Suharto (2007) menuliskan tiga parameter modal sosial :

  1. Kepercayaan (trust): Harapan yang tumbuh di dalam sebuah masyarakat, yang ditunjukkan oleh adanya perilaku jujur, teratur, dan kerjasama berdasarkan norma-norma yang dianut bersama.
  2. Norma-norma (norms):Norma terdiri pemahaman-pemahaman, nilai-nlai, harapan-harapan, dan tujuan-tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang.
  3. Jaringan-jaringan (networks) :Merupakan infrastruktur dinamis yang berwujud jaringan-jaringan kerjasama antar manusia. Jaringan tersebut  memfasilitasi terjadinya komunikasi dan interaksi, memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan memperkuat kerjasama.

Bentuk-bentuk modal sosial

Ada beberapa karakteristik yang perlu diketahui mengenai modal sosial. Menurut Cox (1995), karakteristik modal sosial adalah  dilahirkan dari bawah (bottom-up), tidak hierarkhis, berdasar pada interaksi yang saling menguntungkan, bukan merupakan produk dari inisiatif dan kebijakan pemerintah dan dapat ditingkatkan atau dihancurkan oleh negara melalui kebijakan public.

Menurut Suharto (2005),  beberapa betuk modal sosial yang penting adalah :

  1. Kemampuan dan bakat-bakat individual (individual talents)
  2. Seluruh pengetahuan masyarakat (accumulated knowledges of societies)
  3. Interaksi dan hubungan dalam masyarakat (society interactions)
  4. Organisasi dan jaringan sosial (organization)
  5. Budaya masyarakat (culture).

Modal sosial mencakup: institutions, relationships, attitudes dan values yang mengarahkan dan menggerakkan interaksi-interaksi antar orang dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan pertanian.

Modal sosial berlangsung melalui berbagai bentuk, antara lain melalui aliran informasi (contoh pembelajaran kelahlian kerja, pertukaran ide di kelompok, dsb), norma hubungan timbal balik atau kerjasama mutual (menghubungkan masyarakat sejenis yang berlangsung terus menerus), tindakan kolektif, dan solidaritas yang didukung hubungan sosial. Bentuk-bentuk modal sosial tersebut diwujudkan dalam bentuk kesedian mereka bekerjasama, saling membantu, dan saling membangun pengertian

Modal Sosial dalam Pembangunan

Perkembangan paradigma dan teori pembangunan telah mengalami perubahan sejak 30 tahun lalu. Perubahan ini dipicu oleh ketidakpuasan pada perkembangan pembangunan di banyak negara berkembang dan negara miskin di benua Asia dan Afrika. Paradigma pembangunan yang ada sebelumnya telah menjerumuskan negara-negara tersebut dalam kemiskinan akibat lemahnya kontrol negara terhadap pengaruh dan intevensi negara asing dalam bidang perekonomian, perdagangan, industri, budaya, dan politik, yang berimbas pada lemahnya kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

Perubahan paradigma yang terjadi kemudian, pada banyak negara belum juga berdampak positif bagi masyarakat. Upaya penanggulangan kemiskinan dan upaya membebaskan bangsa dari keterbelakangan senantiasa tidak menghasilkan sesuatu yang optimal. Hal ini erat kaitannya dengan tidak dimasukkannya modal sosial sebagai faktor penting dalam mempengaruhi efisiensi dan efektifitas  kebijakan. Kenyataan ini menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dimensi kultural dan pendayagunaan peran lembaga-lembaga yang tumbuh dalam masyarakat untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses-proses pembangunan. Fukuyama (2002) misalnya menyebutkan faktor kultural, khususnya modal sosial menempati posisi yang sangat periferal sebagai faktor yang menentukan kualitas masyarakat.

Hasbullah (2006) menuliskan bahwa memasukkan modal sosial sebagai salah satu komponen pembangunan tidaklah mudah. Di masing-masing daerah atau negara, spektrum modal sosial tersebut dengan berbagai dimensinya, bervariasi tergantung pada sejarah kebudayaan wilayah atau daerah tersebut. Serta struktur sosial dan peradaban  yang telah terbentuk cukup lama sesuai dengan lingkungannya. Hubungan yang terbentuk antara kultur dan isntitusi, bagaimanapun memiliki jalinan yang sangat kompleks. Namun keberadaan institusi dan lembaga dalam masyarakat tidak dapat terbangun denga kuat tanpa modal sosial, demikian juga sebaliknya, modal sosial pun tidak dapat eksis tanpa institusi yang menopangnya.

Modal Sosial dan Pembangunan Pertanian

Masyarakat yang memiliki modal sosial tinggi akan membuka kemungkinan menyelesaikan kompleksitas persoalan dengan lebih mudah. Dengan saling percaya, toleransi, dan kerjasama mereka dapat membangun jaringan baik di dalam kelompok masyarakatnya maupun dengan kelompok masyarakat lainnya.

Pada masyarakat tradisional, telah diketahui memiliki asosiasi-asosiasi informal yang umumnya kuat dan memiliki nilai-nilai, norma, dan etika kolektif sebagai sebuah komunitas yang saling berhubungan. Hal ini merupakan modal sosial yang dapat mendorong munculnya organisasi-organisasi modern dengan prinsip keterbukaan, dan jaringan-jaringan informal dalam masyarakat yang secara mandiri dapat mengembangkan pengetahuan dan wawasan dengan tujuan peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup bersama dalam kerangka pembangunan masyarakat.

Berkembangnya modal sosial di tengah masyarakat akan menciptakan suatu situasi masyarakat yang toleran, dan merangsang tumbuhnya empati dan simpati terhadap kelompok masyarakat di luar kelompoknya.  Hasbullah ( 2006) memaparkan mengenai Jaringan-jaringan yang memperkuat  modal sosial akan memudahkan saluran informasi dan ide dari luar yang merangsang perkembangan kelompok masyarakat. Hasilnya adalah lahirnya masyarakat yang peduli pada  berbagai aspek dan dimensi aktifitas kehidupan, masyarakat yan saling memberi perhatian dan saling percaya. Situasi yang mendorong kehiduan bermasyarakat yang damai, bersahabat, dan tenteram.  Demikian juga halnya dalam bidang pertanian, secara umum kemampuan modal sosial (social relationship) dipedesaan masih kuat dan mengakar termasuk kesediaan dan saling membantu dalam pengerjaan usahatani.  Pembangunan pertanian akan berhasil apabila petani sebagai subjek pembangunan bergairah dan termotivasi untuk bekerja keras, motivasi akan menumbuhkan daya kreasi petani dan kegotong-royongan diantara mereka yang pada gilirannya menumbuhkan modal sosial yang telah menjamin keberhasilan penerapan teknologi pertanian untuk keberlanjutan pembangunan pertanian di masa akan datang

Kesimpulan

Modal sosial adalah Sumberdaya  yang muncul dari hasil interaksi dalam suatu komunitas, baik antar individu maupun institusi yang melahirkan ikatan emosional berupa kepercayaan, hubungan-hubungan timbal balik, dan jaringan-jaringan sosial, nilai-nilai dan norma-norma yang membentuk struktur masyarakat dan menjadi perekat antar anggota kelompok yang berguna untuk koordinasi dan kerjasama dalam mencapai tujuan bersama.

Unsur modal sosial antara lain: Kepercayaan, Kohesifitas, Altruisme, Gotong-royong, Jaringan, dan kolaborasi social. Bentuk-bentuk modal sosial diwujudkan dalam bentuk kesedian mereka bekerjasama, saling membantu, dan saling membangun pengertian.

DAFTAR PUSTAKA

Bire Adriana, 2008. Peranan Modal Sosial Dalam Adopsi Teknologi Tanam Legowo Pada Kegiatan Prima Tani Di Kabupaten Kupang. Thesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Cox, Eva (1995). A Truly Civil Society. Sidney: ABC Books

Fukuyama, Francis (1999). The End of History and The Last Man: Kemenangan Kapitalisme dan Demorasi Liberal. Yogyakarta: Penerbit Qalam

Hasbullah, Jousairi (2006). Sosial Capital (Menuju Keunggulan Budaya Manusia Indonesia). Jakarta: MR United Press

Suharto, Edy (2007). Modal Sosial dan Kebijakan Publik. .pdf(SECURED). 23/6/2007. 1:49PM

Penulis : Warda Halil

Terakhir Diperbaharui pada Kamis, 06 Desember 2012 10:05
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com