Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner
Demonstrasi Teknologi dan Penangkaran Benih Padi untuk Maksimalisasi Mutu Panen
Berita
Rabu, 11 April 2012 09:43

imageBalai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan dalam lingkup Litbang Pertanian, bertekad untuk selalu berinovasi dan mengaplikasikan ilmunya untuk perbaikan mutu produksi padi dalam rangka mendukung ekspor 1 juta ton padi Sulawesi Selatan. Masalah benih padi dewasa ini, telah menjadi masalah krusial dalam berbagai program Kementerian Pertanian. Sehingga dibutuhkan teknologi tepat untuk menghasilkan benih yang baik, sehat dan bermutu tinggi. Oleh karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian mengadakan Demonstrasi Teknologi Produksi Benih Padi dengan seluruh stakeholder di desa Mattoanging, kecamatan Bantimurung, Maros, dalam rangka sosialisasi kegiatan FEATI 2012.

Kegiatan yang dimotori oleh Ir. Arafah, M.Si, salah satu peneliti Padi BPTP Sulawesi Selatan ini, merupakan kerjasama BPTP Sul-Sel dengan Balai Pengujian dan Sertifikasi Benih (BPSB) Prop. Sulawesi Selatan. Puluhan peserta yang terdiri dari perwakilan Balai Pengujian dan Sertifikasi Benih (BPSB) Sulawesi Selatan, Penyuluh Desa Mattoanging, Posko Penyuluh Pertanian (Posluhtan) Maros, aparat desa beserta petani koperator ikut hadir berpartisipasi dalam sosialiasi itu. Kepala Desa Mattoanging, dalam sambutannya, menyampaikan rasa terimakasih kepada BPTP Sulawesi Selatan karena telah menempatkan kegiatan demonstrasi teknologinya di desa Mattoanging, sehingga semua kelompok tani yang ada di desa tersebut telah terdampingi oleh program Kementerian Pertanian.

Pada kesempatan tersebut, Ir. Arafah, M.Si menjelaskan bahwa untuk menghasilkan benih yang sehat bermutu, perlu mengaplikasikan teknologi yang tepat saat menanam hingga panen tiba. Untuk itu beliau memaparkan bagaimana menangkarkan benih padi yang benar melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadi padi (PTT). Penggunaan varietas unggul baru (VUB) berupa Inpari 13 serta menggunakan bibit dengan umur 21 hari merupakan hasil uji coba beberapa peneliti Kementan juga bisa di terapkan di desa tersebut. Teknologi tanam dengan penggunaan bibit 1-3 per rumpun serta pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan status hara tanah, seperti Kebutuhan unsur Nitrogen maupun Phospor dan Kalium tanah yang ditentukan berdasarkan BWB dan PUTS sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen padi.”Selanjutnya untuk mengendalikan hama dan penyakit, dilakukan rouging pada fase vegetative (30 HST), fase generative yaitu saat primordial dan menjelang panen, yang diikuti dengan teknologi untuk panen dan pasca panen padi untuk hasil yang berlimpah”, lanjut beliau saat menjelaskan tentang teknologi produksi padi.

Penangkaran benih dilakukan untuk menyeleksi benih dan mendapatkan sertifikat lulus uji mutu benih dari BPSB. Seleksi benih berupa Pemeriksaan Pendahuluan, dilakukan saat benih tiba di lokasi, merupakan salah satu dari 4 tahap pemeriksaan di lapangan yang dilakukan oleh BPSB saat seleksi benih. Selanjutnya pemeriksaan pertama pada 1 bulan HST. Bila ada yang menyimpang, akan diberikan 1 minggu untuk perbaikan. Kemudian untuk pemeriksaan kedua, dilakukan pada 2 bulan HST, bila masih ada yang menyimpang tetap diberikan 1 minggu untuk perbaikan. 1 minggu sebelum panen, dilakukan pemeriksaan ketiga dan dilanjutkan dengan pemeriksaan Laboratorium. “Bila benih yang dihasilkan telah lulus uji laboratororium, maka akan diberikan label dari BPSB”, demikian penjelasan yang disampaikan oleh peneliti dari BPSB.

Acara dilanjutkan ke sesi diskusi dimana petani koperator juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi mengenai masalah-masalah yang dihadapi selama ini maupun dari penjelasan teknis yang telah disampaikan sebelumnya. Diskusi di jawab langsung oleh Peneliti dari BPTP Sulawesi Selatan.

Penulis : Dewi Mayanasari

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 23 April 2012 12:41
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com