Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Info Teknologi >> Pengelolaan dan Pemanfaatan Bahan Organik in Situ untuk Budidaya Kakao yang Efisien dan Berkelanjutan


Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang cukup potensil untuk pengembangan kakao, hanya saja produktivitas yang dicapai masih rendah (kurang dari 500 kg per ha per tahun). Salah faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan mutu hasil kakao adalah  kurangnya pemeliharaan tanaman oleh petani seperti pemupukan. Umumnya  usahatani kakao yang dipraktekkan masih konvensional dengan teknik budidaya sederhana dan menggunakan masukan anorganik, berupa bahan kimia sintetik dalam pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.

Sistem usahatani demikian berorientasi tidak ramah lingkungan, sehingga kebijakan pembangunan berkelanjutan melalui penerapan sistem pertanian organik belum menjadi perhatian. Penggunaan pupuk organic memanfaatkan limbah bahan organic yang ada di sekitar perkebunan rakyat diharapkan mampu memperbaiki kondisi pertumbuhan kakao serta produktivitas dan mutu hasil tanaman Pupuk organik diolah dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal berupa daun-daun yang gugur, kulit buah kakao dan rumput-rumput kering dengan dekomposer Promi.

Pengelolaan dan Pemanfaatan bahan organik

Pupuk organik yang digunakan dibuat dari limbah bahan organik yang banyak tersedia disekitar wilayah pengembangan kakao. Kulit buah kakao, daun-daun hasil pangkasan tanaman dan daun gugur, rumput-rumputan dikumpulkan kemudian dilapukkan menggunakan Promi.  Proses dekomposisi bahan organik dilakukan selama 21 hari. Pupuk organik yang sudah jadi dapat langsung digunakan ke pertanaman kakao atau tanaman lainnya.

Pengolahan dan pemanfaatan limbah bahan organik yang meliputi limbah tanaman dan limbah ternak menjadi pupuk organik sudah berkembang pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Pupuk organik dikelola secara spesifik lokasi sesuai dengan potensi limbah organik wilayah pengembangan kakao masing-masing daerah. Sebagai contoh : pemanfaatan limbah tanaman untuk pupuk organik berkembang dikabupaten Soppeng, Enrekang, Tana Toraja dan Toraja Utara; pemanfaatan limbah tanaman dicampur dengan limbah ternak dikembang di kabupaten : Pinrang, Luwu, Luwu Utara, Bantaeng.

Penambahan pupuk organik pada tanaman kakao berpengaruh signifikan terhadap perbaikan komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, diameter cabang, jumlah cabang dan panjang cabang) dan  komponen hasil serta hasil tanaman kakao (jumlah buah, diameter buah, berat buah, jumlah biji per buah, berat basah 100 biji, dan berat kering 100 biji, serta produktivitas tanaman.)

image image
Kondisi awal tanaman kakao
Penampilan setelah pemberian pupuk organik

Analisis Pendapatan

Penggunaan pupuk organik tahun I pada tanaman kakao belum terlihat jelas tetapi pengaruh tampak setelah tahun II dari waktu  pemberian. Prakiraan pendapatan pada tahun I  jika  menggunakan pupuk organik berkisar  Rp. 10.028.720  dan pada tahun II ± Rp. 12.317.656, lebih tinggi dibandingkan  tanpa menggunakan   pupuk   organik   yang   hanya   mencapai    Rp. 9.870.840  (thn I) dan  Rp. 7. 292.340  (thn II).

Penutup

Penambahan pupuk organik jelas memberi pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi, namun demikian pupuk organik belum mampu mensubtitusi seluruh kebutuhan hara tanaman. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tanaman masih diperlukan penambahan pupuk anorganik separuh dosis anjuran.

Penggunaan pupuk organik hanya akan efektif mendukung capaian pertumbuhan dan produksi optimal  jika anjuran teknologi budidaya kakao seperti : pemangkasan, pengendalian hama, dan anjuran lainnya juga diterapkan.

Penulis : Syafruddin Kadir, Peter Tandisau, Sahardi

Syafruddin Kadir, Peter Tandisau, Sahardi
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan merupakan wilayah yang cukup potensil untuk pengembangan kakao, hanya saja produktivitas yang

dicapai masih rendah (kurang dari 500 kg per ha per tahun). Salah faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas

dan mutu hasil kakao adalah  kurangnya pemeliharaan tanaman oleh petani seperti pemupukan. Umumnya  usahatani

kakao yang dipraktekkan masih konvensional dengan teknik budidaya sederhana dan menggunakan masukan anorganik,

berupa bahan kimia sintetik dalam pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.

Sistem usahatani demikian berorientasi tidak ramah lingkungan, sehingga kebijakan pembangunan berkelanjutan

melalui penerapan sistem pertanian organik belum menjadi perhatian. Penggunaan pupuk organic memanfaatkan limbah

bahan organic yang ada di sekitar perkebunan rakyat diharapkan mampu memperbaiki kondisi pertumbuhan kakao serta

produktivitas dan mutu hasil tanaman Pupuk organik diolah dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal berupa

daun-daun yang gugur, kulit buah kakao dan rumput-rumput kering dengan dekomposer Promi.

Pengelolaan dan Pemanfaatan bahan organik

Pupuk organik yang digunakan dibuat dari limbah bahan organik yang banyak tersedia disekitar wilayah pengembangan

kakao. Kulit buah kakao, daun-daun hasil pangkasan tanaman dan daun gugur, rumput-rumputan dikumpulkan kemudian

dilapukkan menggunakan Promi.  Proses dekomposisi bahan organik dilakukan selama 21 hari. Pupuk organik yang sudah

jadi dapat langsung digunakan ke pertanaman kakao atau tanaman lainnya.

Pengolahan dan pemanfaatan limbah bahan organik yang meliputi limbah tanaman dan limbah ternak menjadi pupuk

organik sudah berkembang pada beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Pupuk organik dikelola secara spesifik

lokasi sesuai dengan potensi limbah organik wilayah pengembangan kakao masing-masing daerah. Sebagai contoh :

pemanfaatan limbah tanaman untuk pupuk organik berkembang dikabupaten Soppeng, Enrekang, Tana Toraja dan Toraja

Utara; pemanfaatan limbah tanaman dicampur dengan limbah ternak dikembang di kabupaten : Pinrang, Luwu, Luwu

Utara, Bantaeng.

Penambahan pupuk organik pada tanaman kakao berpengaruh signifikan terhadap perbaikan komponen pertumbuhan (tinggi

tanaman, diameter cabang, jumlah cabang dan panjang cabang) dan  komponen hasil serta hasil tanaman kakao (jumlah

buah, diameter buah, berat buah, jumlah biji per buah, berat basah 100 biji, dan berat kering 100 biji, serta

produktivitas tanaman.)

gambar

Analisis Pendapatan

Penggunaan pupuk organik tahun I pada tanaman kakao belum terlihat jelas tetapi pengaruh tampak setelah tahun II dari waktu  pemberian. Prakiraan pendapatan pada tahun I  jika  menggunakan pupuk organik berkisar  Rp. 10.028.720  dan pada tahun II ± Rp. 12.317.656, lebih tinggi dibandingkan  tanpa menggunakan   pupuk   organik   yang   hanya   mencapai    Rp. 9.870.840  (thn I) dan  Rp. 7. 292.340  (thn II).

Penutup

Penambahan pupuk organik jelas memberi pengaruh baik terhadap pertumbuhan dan produksi, namun demikian pupuk organik belum mampu mensubtitusi seluruh kebutuhan hara tanaman. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tanaman masih diperlukan penambahan pupuk anorganik separuh dosis anjuran.

Penggunaan pupuk organik hanya akan efektif mendukung capaian pertumbuhan dan produksi optimal  jika anjuran teknologi budidaya kakao seperti : pemangkasan, pengendalian hama, dan anjuran lainnya juga diterapkan.
Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 14 Agustus 2012 14:48
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com