Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner

Info Teknologi >> Teknologi Sambung Samping pada Tanaman Kakao di Sulawesi Selatan


Jermia Limbongan, Syafruddin Kadir, Basir Nappu, dan Dharmawida Amiruddin
(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan)

Kakao (Theobroma cacao  L.) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sangat penting bagi perekonomian nasional khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2009, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 1,5 juta kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ketiga dalam sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai sebesar US $ 975 juta.

Teknologi sambung samping merupakan teknik rehabilitasi tanaman kakao tua dan tidak produktif lagi dengan cara menyambungkan entres kakao unggul (sebagai batang atas) dengan kakao yang tidak produktif (sebagai batang bawah).  Teknik sambung samping sebagian besar digunakan oleh petani kakao yang enggan mengganti tanamannya dengan bibit baru karena mereka menganggap tanaman kakaonya masih dapat menghasilkan buah walaupun dalam jumlah sedikit.

Menurut Direktorat Jenderal Perkebunan (2008) luas tanaman kakao yang masuk dalam program rehabilitasi dengan teknik sambung samping terutama di Bali dan Sulawesi adalah 235.000 ha. Sehingga kegiatan rehabilitasi melalui teknik sambung samping  jelas membutuhkan entres yang sangat banyak yang berasal dari klon unggul.

Potensi bahan tanam kakao unggul lokal yang tersedia di beberapa daerah pengembangan kakao belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber entres, padahal beberapa klon seperti klon ICS 13, ICS 60, Hibrida, Sulawesi 1, Sulawesi 2, RCC 70, ICCRI 03, ICCRI 04, Polman, M01, Luwu Utara, merupakan sumber entres yang baik.

Teknik Penyambungan

Pertama-tama buat dua buah torehan vertikal setinggi 5 cm dengan menggunakan pisau okulasi pada sisi batang setinggi 45-60 cm dari permukaan tanah.  Jarak antara torehan 1-2 cm atau sama dengan diameter entres yang akan disisipkan. Ujung atas torehan dipotong miring ke bawah hingga mencapai kambium. Pangkal entres disayat miring sehingga diperoleh bentuk permukaan sayatan tersebut runcing seperti baji, panjang sayatan 3-4 cm. Entres yang sudah dipersiapkan perlahan-lahan disisipkan pada batang bawah. Sisi sayatan yang berbentuk baji diletakkan menghadap ke kambium batang bawah kemudian lidah kulit ditutup kembali sebelum dilakukan pengikatan. Entres dikerodong dengan kantong plastik yang telah dipersiapkan, kemudian diikat kuat dengan menggunakan tali rafia. Pemotongan tanaman pokok pada prinsipnya dapat dilakukan apabila sambungan sudah cukup kuat menempel pada batang bawah pada jarak 50-100 cm dari letak sambungan.

Tingkat Keberhasilan Sambungan

Tingkat keberhasilan sambungan di Sulawesi Selatan menunjukkan persentase sambung jadi antar klon TSH 858 berbeda nyata dengan klon  Sulawesi 1, klon Sulawesi 2, klon M 01, dan klon 45. Kenyataan ini menunjukkan bahwa setiap klon memiliki kemampuan yang berbeda untuk menghasilkan sambungan jadi.

image

image

Gambar 1. Tunas  umur 1 bulan Gambar 2. Tunas mulai berbuah umur 24 bulan (Klon Sulawesi 1)

Demikian juga, tingkat keberhasilan sambungan yang dicapai oleh petani yang sudah berpengalaman 2 tahun mencapai 74,5% sedangkan petani yang baru belajar 1 tahun hanya 53,8-56,0%.

Hasil analisis ekonomi menunjukkan sambung samping sejak tahun pertama menghasilkan modal positif sebesar Rp. 1.313.000,- yang diperoleh dari buah hasil panen batang bawah. Sampai dengan  tahun kelima  total pendapatan yang diperoleh mencapai Rp. 50.848.000,- atau 1,8 kali dari total pendapatan yang diperoleh dari penanaman biasa.

Penutup

Teknologi sambung samping merupakan teknologi yang murah, mudah diterapkan, dan dapat meningkatkan pendapatan petani  dan merupakan salah satu pilihan yang cocok dilakukan dalam program rehabilitasi tanaman kakao.

Potensi klon kakao unggul yang dapat dijadikan sebagai sumber entres di setiap daerah pengembangan cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Tingkat keberhasilan sambungan dipengaruhi oleh jenis entres yang digunakan, umur entres, tersedianya entres dalam jumlah yang memadai dan dekat lokasi pengembangan, kemampuan dan keterampilan petani melakukan sambungan, serta kondisi iklim.

Terakhir Diperbaharui pada Selasa, 14 Agustus 2012 14:51
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com