Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Buletin >> Buletin Volume I Nomor I Tahun 2006 >> Memacu perbanyakan bibit durian dengan teknik sambung pucuk


Keunggulan perbanyakan vegetatif, khususnya Sambung Pucuk ( Tip Grafiting ) pada Tanaman Durian ( Durio Ziberthinus Murrs ). Adalah karena dapat dilakukan lebih awal, yakni pada semaian batang bawah yang baru berumur dua bulan, dengan tingkat keberhasilan sambungan tinggi yakni sekitar 80% sehingga akan diperoleh bibit bermutu dalam waktu yang singkat, dan dalam jumlah yang dikehendaki.

Pada prinsipnya,perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan dua cara, yakni secara generatif dengan menggunakan bagian tanaman (akar, batang, daun). Perbanyakan vegetatif itu sendiri dapat berupa Stek, Anakan, Okulasi, Sambungan, Merunduk, Penyusuan, dan Kultur Jaringan. Okulasi, Sambungan dan Penyusun serta Modifikasinya; Stekon (Stek Okulasi), Stebung (Stek Sambung), mempunyai keunggulan lain, karena dapat menggabungkan dua sifat yang diinginkan dari dua individu tanaman yang berbeda, sehingga disebut juga sebagai cara perbanyakan vegetatif dengan perbaikan.

Keunggulan perbanyakan vegetatif, khususnya Sambung Pucuk (Tip Grafting) pada tanaman Durian (Durio Zibertus Murrs) adalah karena dapat dilakukan lebih awal, yakni pada persemaian batang bawah yang baru berumur dua bulan, dengan tingkat keberhasilan sambungan tinggi, yakni sekitar 80%. Dengan teknik Sambung Pucuk, para petani penangkar benih (baca bibit)tanaman Durian bermutu dalam waktu singkat. Selain itu, dengan cara seperti ini mutu genetik dapat dipertahankan bahkan di tingkatkan, diperoleh pohon yang dapat berbuah lebih cepat, dan dengan mutu produksi yang lebih baik.

Beberapa langkah kerja dalam perbanyakan benih bibit Durian dengan sambung pucuk, secara singkat dipaparkan dalam uraian berikut ini.

SEMAIAN BATANG BAWAH

Pembibitan batang bawah sebaiknya dilakukan pada saat musim buah Durian, karena biji tanaman ini tidak mempunyai masa dorman dan bersifat rekalsitran ( tidak tahan kering ), sehingga harus segera disemaikan dalam bentuk pendederan biji. Urutan kerja dalam mempersiapkan persemaian dan pendederan biji tersebut adalah :

1. Siapkan biji/benih yang berasal dari Durian matang, selanjutnya diseleksi dengan memilih biji yang ukurannya sedang. Bersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat pada biji. Hindarkan dari terpaan sinar matahari langsung.

2. Buat bedengan persemaian/pendederan. Semai biji yang tersedia dengan membenamkannya ke dalam tanah pada posisi pusar ( hilum ) menghadap ke bawah. Tekan dan tutup dengan tanah atau mulsa.

3. Beri perlakukan fungisida untuk menghidari serangan jamur dan perlakuan intektisida butiran untuk mencegah serangan serangga, mislanya semut.

4. Buat naungan kolektif untuk bedengan pendederan benih selama satu bulan.

Setelah bibit berumur sekitar satu bulan, dengan kotiledon ( kepiting biji ) yang berfungsi sebagai persediaan makanan yang telah lepas, selanjutnya diseleksi, dan akar yang terlalu panjang dipotong, disesuaikan dengan ukuran kantong plastik yang digunakan. Langkah berikutnya, bibit dipindahkan ke kantong plastik (polibag) ukuran 18x12 cm, yang berisi media tumbuh tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1, atau menggunakan tanah lapisan olah tanpa pupuk kandang. Dengan menggunakan kantong plastik ukuran kecil seperti dikemukakan diatas, maka akan lebih banyak bibit yang dapat dupelihara dalam satuan luasan tertentu. Selanjutnya kantong plastik ditaruh pada tempat yang terlindung atau naungan lebih kurang 60%. Pemeliharaan pada kantong plastik tersebut berlangsung kira-kira satu bulan, sehingga setelah bibit berumur dua bulan sambungan pucuk sudah dapat dilakukan.

TUNAS SAMBUNG

Tunas sambung berupa pucuk, hendaknya diperoleh dari cabang yang dorman (istirahat) dari pohon induk terpilih, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Tetapkan pohon induk Durian sebagai sumber mata tunas. Untuk tujuan komersial, pohon induk harus telah terdaftar pada BPSB TPH setempat. Pohon induk sebaiknya dipangkas kira-kira empat bulan sebelum pengambilan entris agar diperoleh mata tunas sambungan dalam jumlah banyak dan bermutu.
  2. Pilih tunas pucuk dari ranting yang tegak sampai miring 45 derajat dan tangkai pucuk bernas sepanjang 12 cm. Tangkai daun segera di potong, dengan menyisakan tiga helai daun ( satu pasang ditambah satu daun pada bagian ujung ). Daun-daun tersebut selanjutnya dipotong dengan menyisakan masing-masing seperti bagian helai daun.
  3. Jika menggunakan pucuk yang tidak dorman, maka pilih ranting yang lebih panjang, karena bagian pucuk yang tidak dorman harus dipotong, selanjutnya beri perlakuan yang sama pada ranting yang dorman tersebut diatas.
  4. Ranting Tunas Sambung dapat disimpan maksimal 4-5 jam, dengan penyimpanan yang baik menggunakan pisang atau dikemas dalam kardus yang dilapisi kertas koran basah.

KEGIATAN PENYAMBUNGAN

Langkah awal dari kegiatan ini adalah mempersiapkan alat dan bahan-bahan yang diperlukan, diantaranya pisau Cutter berukuran lebar 1 cm atau pisau silet Goal. Selanjutnya, sediakan plastik pengikat berupa plastik kemasan gula pasir, atau plastik kemasan es lilin, dengan ketebalan 0,003 mm, diiris dengan ukuran lebar 1 cm, panjang sesuai kebutuhan. Dianjurkan menyediakan tempat meletakkan atau menancapkan pisau selama bekerja, berupa gedebok pisang. Kegiatan penyambungan diawali dengan memotong semaian batang bawah bekas atau dibawah kotiledon, buat celah dan masukkan tunas sambung yang telah diruncing ( bentuk V ), dan selanjutnya diikat dengan lembaran plastik pengikat yang telah disiapkan. Upayakan tidak ada celah antara tunas sambung dengan batang bawah untuk mencegah masukknya air dan penyakit pada bekas perlukaan tersebut, yang dapat menggagalkan pertautan antara tunas sambung dengan batang bawah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kondisi lingkungan. Dianjurkan agar kegiatan penyambungan dilakukan dibawah naungan 50 sampai 60 %. dengan ketinggian sebatas orang bisa berjalan yang diperlukan oleh pelaksana. Proses kegiatan sambung pucuk ( dengan metode sambung celah ) untuk satu unit sungkup pemeliharaan harus selesai dalam satu hari.

PEMELIHARAAN BIBIT

Bibit Durian sambungan dipelihara dibawah sungkup plastik dan naungan 50% sampai 60%. untuk mempertahankan kelembaban, segera setelah penyambungan dilakukan. Pembuatan sungkup itu sendiri terdiri dari bahan-bahan sederhana berupa bumbu untuk kerangka yang ditancapkan ke dalam tanah. Pasang lembaran plastik dengan ketebalan 0,008 sampai 0,010 mm, yang harus menutupi seluruh rangka, dengan menggabungkan lembaran plastik yang dikuatkan dengan klip. Selanjutnya lembaran plastik yang telah digabungkan tersebut, ditarik untuk menutupi sungkup, dan diakhiri dengan memasukkan ujung plastik tersebut ke dalam tanah.

Tanah alas penempatan bibit Durian sambungan ditaburi kapur tembok sebagai tindakan menetralisir pH tanah dan pencegahan penyakit cendawan. Beberapa langkah kerja pemeliharaan bibit Durian sambungan adalah :

  1. Penyemprotan fungisida pada bibit Durian sambungan yang telah memenuhi sungkup, kemudian ditutup rapat.
  2. Pengamatan pertama terhadap kemungkinan serangan jamur dilakukan pada hari ketiga, dan jika ditemukan gejala seranagan, maka ulangi penyemprotan fungisida pada pagi atau sore hari, saat mana tidak ada perbedaan suhu dan kelembaban didalam dan diluar sungkup.
  3. Penyemprotan dilakukan dengan menyingkap sebagai sungkup, masukkan nozel sprayer dan semprot seluruh pembibitan. Ulangi pengamatan ( pengamatan kedua ), empat hari kemudian. Semprot seluruh persemaian jika ditemukan adanya gejala-gejala serangan jamur. Pengamatan gejala serangan penyakit dan penyemprotan fungisida dilakukan berulang kali dengan interval empat hari, sampai bibit sambungan mencapai umur 14 hari, sebagai batas fase kritis serangan penyakit jamur yang dapat menyerang bibit Durian sambungan tersebut. Namun demikian, sebagai tindakan pengamanan, pengamatan dan penyemprotan fungisida hendaknya dilakukan sampai bibit berumur satu bulan dalam sungkup.
  4. Penempatan bibit Durian sambungan dalam sungkup berlangsung selama satu bulan, dan pada akhirnya sungkup dibuka. Selama bibit Durian sambungan dalam sungkup, tidak dilakukan penyiraman karena kelembaban cukup tinggi dan penyiraman dapat memicu serangan penyakit, terutama jamur.

KEGIATAN LANJUTAN

Kegiatan lanjutan dimaksudkan dengan seluruh kegiatan berikutnya setelah sungkup dibuka sampai bibit Durian sambungan ditanam atau disalurkan kepada konsumen. Penyiraman benih (baca bibit) seperlunya saja, dan jika dilakukan pada sore hari, maka harus kering sebelum matahari terbenam untuk menghindari serangan penyakit jamur. Kegiatan lanjutan lainnya adalah sebagai berikut :

  1. Seleksi benih dengan memisahkan bibit sambungan jadi dengan sambungan yang gagal atau mati.
  2. Penyiangan dengan mencabut gulma yang tumbuh pada kantong plastik.
  3. Pemindahan bibit Durian sambungan ke kantong plastik yang berukuran lebih besar ( misalnya 20 x 25 cm; 20 x 30 cm ) ; menggunakan media tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1; dan dicampur pula dengan furadan, kapur pertanian, dan pupuk SP-36 seperlunya.

Kegiatan pemeliharaan lanjutan ini agar dijadwalkan dengan cermat, terutama bagi penangkaran benih dalam jumlah banyak. Lebih lanjut, penempatan bibit Durian sambungan ditata pada bedengan dengan ukuran 8 tanaman dan panjangnya sesuai kebutuhan dan lahan yang tersedia. Pasang ajir bambu setinggi 80 cm sebagai tempat mengikatkan bibit agar tidak rebah atau melengkung. Pada fase ini juga ikatan sambungan dilepas. Pemupukan bibit Durian sambungan pada kantong plastik besar (setelah penggantian kantong plastik pada saat masih dalam sungkup), dilakukan setelah bibit berumur 2 bulan, menggunakan pupuk ZA yang dilarutkan dalam air ( dosis 2 gram / liter air ), diselingi dengan pupuk NPK dengan takaran yang sama, disesuaikan dengan tingkat kesuburan pertumbuhan bibit. Kegiatan berkala lainnya adalah penyiraman tanaman, penyemprotan fungisida, serta penjarangan naungan secara bertahap, sampai akhirnya bibit siap ditanam di lapangan atau disalurkan kepada pengguna lainnya.

KESIMPULAN

Dari uraian dan pembahasan yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa :

  1. Pebanyakan bibit Durian dengan metode sambung pucuk yang dimodifikasi (dilakukan lebih awal), merupakan cara unggul dalam perbanyakan bibit Durian.
  2. Faktor pendukung keunggulannya adalah karena dapat dilakukan lebih awal, tingkat keberhasilannya tinggi, sederhana dan bersifat massal.

( KA )

Terakhir Diperbaharui pada Jumat, 07 Desember 2012 09:58
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com