Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Panduan Petunjuk Teknis Brosur >> Teknologi produksi jagung melalui pendekatan pengelolaan sumber daya dan tanaman terpadu (PTT)


Sampul Brosur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Upaya peningkatan produksi jagung nasional selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang tinggi dan terus meningkat, juga untuk mengisi peluang pasaran dunia karena permintaan jagung secara global dan regional juga besar dan terus meningkat. Industri yang membutuhkan jagung sebagai bahan baku tidak hanya terbatas pada industri unggas dan produksi ternak/daging seperti sapi, juga akan semakin berkembang industri-industri lainnya.

Peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam utamanya di luar Jawa. Meskipun produktivitas jagung meningkat, namun rata-rata tingkat produktivitas jagung nasional dari areal panen sekitar 3,36 juta hektar baru mencapai 3,40 ton/ha. Kegiatan litbang jagung dari berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta telah mampu menyediakan teknologi produksi jagung dengan tingkat produktivitas 4,0–9,0 ton/ha, tergantung pada potensi lahan dan teknologi produksinya.

Upaya peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam akan berlangsung pada berbagai lingkungan atau agroekosistem beragam mulai dari lingkungan berproduktivitas tinggi (lahan subur) sampai yang berproduktivitas rendah (lahan suboptimal dan marjinal). Untuk itu diperlukan penyediaan teknologi produksi jagung yang beragam dan spesifik lingkungan.

Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu yang strategis, karena (a) dapat mengurangi/mengatasi defisit pasokan jagung yang umumnya terjadi pada musim kemarau, (b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau adalah tinggi, dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang lebih baik karena harga yang relatif tinggi.

Penggunaan teknologi budidaya jagung oleh petani yang sekarang berlaku pada umumnya masih bersifat parsial khususnya bagi wilayah berproduktivitas rendah. Memperpadukan sejumlah komponen teknologi produksi diharapkan akan meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani jagung. Keberhasilan perbaikan produktivitas dan pendapatan tersebut pada gilirannya akan memperlancar upaya pengembangan areal pertanaman jagung di Indonesia.

Dalam usahatani jagung untuk mendapatkan tingkat produktivitas yang tinggi, kualitas yang baik, dan efisien maka penerapan teknologi produksi jagung melalui pendekatan pengelolaan tanaman secara terpadu (PTT-jagung) dengan memadukan berbagai komponen teknologi yang memberikan pengaruh sinergistik merupakan pendekatan yang sesuai, namun harus ditunjang dengan sistem kelembagaan yang memadai. Teknologi produksi yang dimaksud meliputi varietas unggul, benih bermutu, populasi tanaman yang optimal, pengelolaan hara dan air yang efisien, pengendalian jasad pengganggu dan teknologi pasca panen yang sesuai dengan kondisi lahan dan sosial ekonomi petani.

VARIETAS

Jagung

 

 

 

 

 

 

 

Diantara komponen teknologi produksi jagung, varietas unggul (baik hibrida maupun bersari bebas) mempunyai peranan penting dalam upaya peningkatan produktivitas jagung. Peranannya menonjol baik dalam potensi peningkatan hasil per satuan luas maupun sebagai  salah satu komponen pengendalian hama dan penyakit. Selain potensi produktivitas dan ketahanannya terhadap hama dan penyakit, karakter tanaman lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan varietas jagung unggul adalah kesesuaiannya dengan kondisi lingkungan (tanah dan iklim), antara lain toleran kekeringan dan tanah masam, serta preferensi petani terhadap karakter lainnya seperti umur dan warna biji.

Semakin banyak varietas yang dilepas dan tersedia di tingkat petani dengan karakter spesifik yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat semakin memudahkan petani mengambil keputusan untuk menentukan suatu varietas yang sesuai dengan sumber daya yang ada di lingkungannya.

Varietas-varietas jagung unggul bersari bebas/komposit dan hibrida yang telah dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian selama 10 tahun terakhir disajikan dalam tabel berikut :

Varietas Tahun
dilepas
Hasil
rata-
rata
(t/ha)
Potensi
hasil
(t/ha)
Umur
panen
(hari)
Ketahanan
penyakit
bulai    
Keunggulan
spesifik

Komposit/bersari
bebas






Lagaligo
Gumarang
Kresna
Lamuru
Palakka
Sukmaraga
Srikandi Kuning-1
Srikandi Putih-1
Anoman (Putih)
1996
2000
2000
2000
2003
2003
2004
2004
2006
5,1
5,0
5,2
5,6
6,0
6,0
5,4
5,9
5,0
7,5
8,0
7,0
7,6
8,0
8,5
7,9
8,1
7,0
90
82
90
95
95
105
110
110
103
Toleran
A. Toleran
A. Toleran
A. Toleran
Toleran
Toleran
Rendah
Rendah
Rendah
T. kekeringan
-
-
T. kekeringan
-
T. kemasaman
Protein bermutu
Protein bermutu
Rasa enak
Hibrida
Semar-3
Semar-4
Semar-5
Semar-6
Semar-7
Semar-8
Semar-9
Semar-10
Bima-1
Bima-2  Bantimurung
Bima-3 Bantimurung
1996
1999
1999
1999
1999
1999
1999
2001
2001
2006
2006
5,3
5,9
6,8
6,9
6,8
6,9
6,6
7,2
7,3
8,5
8,3
9,0
8,5
9,0
8,9
9,0
9,0
8,5
9,0
9,0
11,0
10,0
94
90
98
98
98
94
95
97
97
100
100
Toleran
Toleran
Toleran
Toleran
Toleran
Toleran
Toleran
A. Toleran
A. Toleran
A. Toleran
Toleran
T. kekeringan
-
-
-
-
-
-
Biomas tinggi
Stay green
Stay green
Stay green

1. Budidaya Jagung Melalui Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada Lahan Kering.

Komponen teknologi budidaya penting yang dikelola secara terpadu pada lahan kering dengan meperhatikan karakter lahan lainnya seperti topografi dominan dan kondisi sosial ekonomi seperti luas pemilikan lahan, ketersediaan tenaga kerja, serta ketersediaan jasa penyewaan traktor, adalah sebagai berikut :

Varietas

Sesuai dengan pemanfaatan jagung, dianjurkan untuk menanam varietas jenis hibrida atau komposit Lamuru, Sukmaraga, atau Srikandi Kuning-1 apabila untuk menghasilkan biji dengan tujuan pakan; varietas Srikandi Putih-1 apabila untuk menghasilkan biji dengan tujuan pangan. Lamuru adalah jenis jagung komposit yang relatif tahan terhadap cekaman kekeringan dengan potensi hasil

 

Jagung

 

 

 

 

 

7,5 ton/ha. Pada lahan kering potensi hasil Srikandi Kuning-1 (8,0 ton/ha) lebih tinggi daripada Lamuru, dan kualitas proteinnya juga lebih baik. Srikandi Putih-1 potensi hasilnya lebih baik daripada varietas Bayu sebagai varietas unggul berbiji putih yang terakhir dilepas sebelum Srikandi Putih-1. Kualitas protein Srikandi Putih-1 juga lebih baik daripada varietas Bayu.

Benih

Benih berkualitas, dengan daya kecambah tidak kurang dari 95%, dan diberi perlakuan benih yaitu dengan 2 g metalaksil (Ridomil atau Saromil) per 1 kg benih. Setiap 2 g Ridomil atau Saromil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur dengan 1 kg benih secara merata. Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan berkisar antara 15-20 kg.  

Penyiapan lahan

Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah hujan mulai turun dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah atau dapat juga dilakukan sebelum hujan turun. Lahan dibersihkan terlebih dahulu dari tumbuhan pengganggu perdu. Pembersihan lahan dapat dilakukan dengan sabit/parang atau menggunakan herbisida paraquat/glyphosat (1-2 l/ha). Setelah lahan bersih dari tumbuhan pengganggu, dilakukan pengolahan tanah dengan bajak yang ditarik traktor/sapi dan diikuti dengan garu/sisir serta perataan sampai lahan siap ditanami. Pengolahan tanah dapat juga dilakukan dengan cangkul.

Penanaman

Penanaman dilakukan secepatnya setelah penyiapan lahan selesai dan siap ditanami pada saat awal musim hujan, dengan memperhatikan hal-hal :

a. Topografi datar sampai berombak, pemilikan lahan luas, tenaga kerja terbatas, dan tersedia jasa penyewaan traktor, penanaman dilakukan dengan alat tanam ATB1-2R-Balitsereal (ditarik hand tractor) yang dapat melakukan pekerjaan membuat alur, menanam/menjatuhkan benih, dan menutup benih secara simultan dan otomatis sehingga penanaman dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Jika untuk penutup benih dikehendaki pupuk kandang kotoran ayam ras, maka komponen alat tanam untuk penutup dapat ditiadakan. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 benih per lubang tanam. Jika tidak tersedia hand tractor untuk menarik alat tanam, penanaman dapat dilakukan dengan sistem alur yang dibuat dengan bajak singkal yang ditarik sapi. Benih diletakkan dalam setiap alur yang jaraknya antar alur 75 cm dan dalam alur 40 cm, 2 benih per penempatan dan benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras. Penanaman dapat pula dilakukan secara konvensional dengan menggunakan tugal dan kayu untuk membuat lubang tempat benih, jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 benih/lubang) dan benih ditutup pupuk kandang kotoran ayam ras.

b. Jika topografi bergelombang sampai berbukit, atau pemilikan lahan sempit, atau tidak tersedia jasa penyewaan traktor maupun bajak dan sapi, maka penanaman dilakukan secara konvensional dengan tugal menggunakan tenaga manusia untuk membuat lubang tanam. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 benih per lubang tanam. Benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras.

Pemupukan

Pupuk organik/kotoran ayam ras, diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25-50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih), setara dengan 1,5 ton/ha.

Pupuk anorganik semuanya bersumber dari pupuk tunggal :

 

Hara yang ditambahkan/pupuk Takaran*) (kg/ha) Waktu aplikasi pupuk (hst)**)
7-10 25-30 40-45
Urea
SP36
KCL
300-350
100-200
50-150
30 %
100 %
50 %
40 %
-
50 %
30 %
-
-

Catatan :
*) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara  dalam tanah dari hasil analisis tanah.
**) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman.


Cara Aplikasi :

  • 7-10 hst : Urea + SP36 + KCl sebelum diaplikasikan dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 7,5-10,0 cm sedalam       5,0-7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 20-30 hst : pupuk Urea + KCl diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 40-45 hst : sebelum pemberian pupuk urea ketiga, sebaiknya dilakukan pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jika warna daun menunjukkan telah cukup pupuk, maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan, sedangkan jika masih diperlukan pemberian pupuk urea maka sesuai dengan warna daun ditambahkan pupuk sebanyak yang diperlukan dengan cara ditugal di samping tanaman berjarak 15-20 cm sedalam 5,0-7,5 cm dan ditutup tanah. Dengan cara ini maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien.


Pembuatan saluran drainase 

Tanaman jagung selain peka terhadap kekeringan juga peka teerhadap kelebihan air. Dalam kondisi curah hujan tinggi, air yang menggenang akan menyebabkan tanaman jagung layu dan mati. Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air pada pertanaman perlu dibuat saluran drainase. Pembuatan saluran drainase dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. Pembuatan saluran drainase sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14–20 hst) untuk penghematan tenaga. Pembuatan saluran drainase pada setiap baris tanaman dapat dilakukan dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik hand tractor, sedangkan untuk saluran drainase setiap dua baris tanaman digunakan alat PAI-2R-Balitsereal yang juga ditarik dengan hand tractor. Jika tidak tersedia hand tractor, pembuatan saluran dapat dilakukan dengan manual atau dengan bajak singkal yang ditarik sapi atau cangkul.
Kegiatan ini sekaligus dilakukan untuk pembumbunan tanaman.

Pengendalian hama

Hama yang umum mengganggu pada pertanaman jagung adalah lalat bibit, penggerek batang dan tongkol. Lalat bibit umumnya mengganggu pada saat awal pertumbuhan tanaman, oleh karena itu pengendaliannya harus dilakukan mulai saat tanam dengan menggunakan insektisida utamanya pada daerah-daerah endemik serangan lalat bibit. Untuk hama penggerek batang, jika mulai nampak ada gejala serangan dapat dilakukan dengan pemberian carbofuran (3-4 butir carbofuran/tanaman) melalui pucuk tanaman.

Penyiangan gulma

Bagi wilayah dengan kondisi topografi datar sampai berombak, penyiangan pertama dilakukan dengan alsin penyiang AP8-IRRI-Balitsereal yang mempunyai kapasitas kerja 8-9 jam/ha pada umur 14-20 hst. Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 35-40 hst dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma)

Bagi wilayah dengan kondisi topografi bergelombang sampai berbukit maka penyiangan pertama (14-20 hst) dapat dilakukan dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma), dengan cara mengaplikasikan secara aman dengan memasang pelindung/penyungkup pada nozzle agar herbisida tidak mengenai tanaman. Penyiangan kedua pada umur 35-40 hst, dengan herbisida paraquat     (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma)

Panen dan prosesing

Daun dibawah tongkol dapat diambil/dipanen pada saat tongkol telah mulai berisi, dan brangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Pengambilan daun dibawah tongkol selain untuk pakan juga untuk mencegah terserangnya penyakit busuk daun. Demikian juga sebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman diatas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis. Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Panen dilakukan pada 1-2 minggu sesudah masak fisiologis (tergantung curah hujan) dalam kondisi kering, sampai kadar air biji mencapai ± 30 % (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50 % di setiap barisan biji).

Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai  ± 20 % dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14 % untuk siap dijual. Jika kondisi cahaya matahari tidak memungkinkan untuk menurunkan kadar air biji karena cuaca mendung selama beberapa hari, maka untuk mempercepat pengeringan digunakan alsin pengering agar tidak timbul jamur/rusak. Alsin pengering yang digunakan dapat bertipe flat bade yang berbahan bakar minyak tanah/solar atau pengering hasil Balitsereal tipe PTK1-4K-Balitsereal yang tanpa pembalikan.

Lahan kering masam sebagai salah satu wilayah pengembangan jagung penting di luar Jawa, pada umumnya tanahnya tergolong podsolik merah kuning yang bereaksi masam dan banyak mengandung Al terlarut, serta miskin bahan organik, dan unsur hara. Komponen teknologi budidaya penting yang dikelola secara terpadu pada lahan kering tersebut dengan memperhatikan karakter lahan lainnya seperti topografi dominan dan kondisi sosial ekonomi seperti luas pemilikan lahan, ketersediaan tenaga kerja, serta ketersediaan jasa penyewaan traktor, adalah sebagai berikut :

Varietas

Sesuai dengan kondisi lahan masam, varietas yang dianjurkan untuk ditanam adalah varietas Sukmaraga (komposit). Sukmaraga adalah varietas jagung unggul bersari bebas yang toleran terhadap kemasaman tanah dan penyakit bulai dengan produktivitas rata-rata dapat mencapai 7-8 ton/ha.

Benih

 

Benih Jagung

 

 

 

 

 

 

 

Benih berkualitas, dengan daya kecambah tidak kurang dari 95 %, dan diberi perlakuan benih yaitu 2 g metalaksil (Ridomil atau Soromil) per 1 kg benih. Setiap 2 g Ridomil atau Soromil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur dengan 1 kg benih secara merata. Kebutuhan benih berkisar antara 15-20 kg/ha.

Penyiapan lahan

penyiapan lahan

 

 

 

 

 

 

Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah hujan mulai turun dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah. Lahan dibersihkan terlebih dahulu dari tumbuhan pengganggu perdu. Pembersihan lahan dapat dilakukan dengan sabit/parang atau dengan menggunakan herbisida paraquat/glyphosat (1-2 l/ha). Setelah lahan bersih dari tumbuhan pengganggu, dilakukan pengolahan tanah dengan bajak yang ditarik traktor/sapi yang diikuti dengan garu/sisir serta perataan sampai lahan siap ditanami. Penyiapan lahan dapat juga dilakukan sebelum musim hujan sehingga dapat mempercepat waktu tanam. Pengolahan tanah  dapat juga dilakukan dengan cangkul jika tersedia tenaga kerja.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan secepatnya setelah penyiapan lahan selesai dan siap ditanami pada saat awal musim hujan, dengan memperhatikan hal-hal :

a. Topografi  datar sampai berombak, pemilikan lahan luas, tenaga kerja terbatas, dan tersedia jasa penyewaan traktor, penanaman dilakukan dengan alat tanam ATB1-2R-Balitsereal (ditarik dengan hand traktor) yang dapat melakukan pekerjaan membuat alur, menanam/menjatuhkan benih, dan menutup benih secara simultan dan otomstis sehingga penanaman dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Jika untuk penutup benih dikehendaki pupuk kandang kotoran ayam ras, maka komponen alat tanam untuk penutup dapat ditiadakan. Jarak tanam 75 cm x 40 cm,  2 benih per lubang tanam. Jika tidak tersedia hand traktor, penanaman dapat dilakukan dengan sistem alur yang dibuat dengan bajak singkal yang ditarik sapi. Benih diletakkan dalam alur yang jaraknya antar alur 75 cm dan dalam alur 40 cm, 2 benih per penempatan dan benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras. Penanaman dapat pula dilakukan secara konvensional dengan menggunakan tugal dari kayu untuk membuat lubang tempat benih,jarak tanam 75 cm x 40 cm (2 benih/lubang) dan benih ditutup pupuk kandang kotoran ayam ras.

b. Jika topografi bergelombang sampai berbukit, atau pemlika lahan sempit, atau tidak tersedia jasa penyewaan traktor maupun bajak dan sapi, maka penanaman dilakukan secara konvensional dengan tugal menggunakan tenaga manusia untuk membuat lubang tanam. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 benih per lubang tanam. Benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras.

Pemupukan

Pupuk organik/kotoran sapi/kerbau/kambing/ayam ras, diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam   (25-50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih, setara dengan 1,5 ton/ha.

Pupuk anorganik semuanya bersumber dari pupuk tunggal :

Hara yang ditambahkan/pupuk
Takaran*) (kg/ha) Waktu aplikasi pupuk (hst)**)
7-10 25-30 40-45
Urea
SP36
KCL
300-350
100-200
50-150
30 %
100 %
50 %
40 %
-
50 %
30 %
-
-

Catatan :
*) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara  dalam tanah dari hasil analisis tanah.
**) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai umur tanaman.

Cara Aplikasi :

  • 7-10 hst : Urea + SP36 + KCl sebelum diaplikasikan dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 7,5-10,0 cm sedalam        5,0-7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 20-30 hst : pupuk Urea + KCl dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 40-45 hst : sebelum pemberian pupuk urea ketiga, sebaiknya dilakukan pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jika warna daun menunjukkan telah cukup pupuk, maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan, sedangkan jika masih diperlukan pemberian pupuk urea maka sesuai dengan warna daun ditambahkan pupuk sebanyak yang diperlukan dengan cara ditugal di samping tanaman berjarak 15-20 cm sedalam 5,0-7,5 cm dan ditutup tanah. Dengan cara ini maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien.

Jika pupuk anorganik bersumber dari pupuk tunggal dan pupuk majemuk, sebagai  berikut :

Hara yang ditambahkan/pupuk
Takaran*) (kg/ha) Waktu aplikasi pupuk (hst)**)
7-10 25-30 40-45
NPK (15-15-15)
Urea
SP36

KCL
200
200-250
50-75*)atau
0**)
75-100*)atau
25-50**)
100 %
-
100 %
-
-
-
-
50 %
-
-
100 %
100 %
-
50 %
-
-
-
-

Catatan :
*) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan hara dalam tanah dari hasil analisis tanah.
**) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai  umur tanaman.


Cara Aplikasi :

  • 7-10 hst : pupuk NPK + SP36 sebelum diaplikasikan dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 7,5-10,0 cm sedalam       5,0-7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 20-30 hst : pupuk Urea + KCl dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 40-45 hst : sebelum pemberian pupuk urea ketiga, sebaiknya dilakukan pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jika warna daun menunjukkan telah cukup pupuk, maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan, sedangkan jika masih diperlukan pemberian pupuk urea maka sesuai dengan warna daun ditambahkan pupuk sebanyak yang diperlukan dengan cara ditugal di samping tanaman berjarak 15-20 cm sedalam 5,0-7,5 cm dan ditutup tanah. Dengan cara ini maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien.

Pembuatan saluran drainase   

Tanaman jagung selain peka terhadap kekeringan juga peka teerhadap kelebihan air. Dalam kondisi curah hujan tinggi, air yang menggenang akan menyebabkan tanaman jagung layu dan mati. Untuk mengantisipasi terjadinya genangan air pada pertanaman perlu dibuat saluran drainase. Pembuatan saluran drainase dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. Pembuatan saluran drainase sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14–20 hst) untuk penghematan tenaga. Pembuatan saluran drainase pada setiap baris tanaman dapat dilakukan dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik hand tractor, sedangkan untuk saluran drainase setiap dua baris tanaman digunakan alat PAI-2R-Balitsereal yang juga ditarik dengan hand tractor. Jika tidak tersedia hand tractor, pembuatan saluran dapat dilakukan dengan manual atau dengan bajak singkal yang ditarik sapi atau cangkul.

Penyiangan gulma

Bagi wilayah dengan kondisi topografi datar sampai berombak, penyiangan pertama dilakukan dengan alsin penyiang AP8-IRRI-Balitsereal yang mempunyai kapasitas kerja 8-9 jam/ha pada umur 14-20 hst. Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 35-40 hst dengan herbisida paraquat (Gramoxone, dengan takaran 1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma).Bagi wilayah dengan kondisi topografi bergelombang sampai berbukit maka penyiangan pertama (14-20 hst) dapat dilakukan dengan herbisida paraquat (1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma), dengan cara mengaplikasikan secara aman dengan memasang pelindung/penyungkup pada nozzle agar herbisida tidak mengenai tanaman. Penyiangan kedua pada umur 35-40 hst, dengan herbisida paraquat (Gramoxone, dengan takaran 1,0-1,5 liter/ha tergantung kondisi gulma).

Panen dan prosesing

Daun dibawah tongkol dapat diambil/dipanen pada saat tongkol telah mulai berisi, dan brangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Pengambilan daun dibawah tongkol selain untuk pakan juga untuk mencegah terserangnya penyakit busuk daun. Demikian juga sebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman diatas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis. Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Panen dilakukan pada 1-2 minggu sesudah masak fisiologis (tergantung curah hujan) dalam kondisi kering, sampai kadar air biji mencapai ± 30 % (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50 % di setiap barisan biji).
Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai  ± 20 % dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14 % untuk siap dijual. Jika kondisi cahaya matahari tidak memungkinkan untuk menurunkan kadar air biji karena cuaca mendung selama beberapa hari, maka untuk mempercepat pengeringan digunakan alsin pengering agar tidak timbul jamur/rusak. Alsin pengering yang digunakan dapat bertipe flat bade yang berbahan bakar minyak tanah/solar atau pengering hasil Balitsereal tipe PTK1-4K-Balitsereal yang tanpa pembalikan.

Saat ini perluasan areal untuk pertanaman jagung pada lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan diperkirakan meningkat masing-masing 10-15% dan 20-30% terutama pada daerah produksi jagung komersial. Pengembangan jagung di lahan sawah pada musim kemarau merupakan sesuatu langkah strategis, karena (a) dapat mengurangi/mengatasi defisit pasokan jagung yang umum terjadi pada musim kemarau, (b) kualitas produk jagung pertanaman musim kemarau akan lebih baik dibandingkan dengan musim hujan, dan (c) petani jagung musim kemarau memperoleh pendapatan yang meningkat.

Untuk itu diperlukan teknologi budidaya yang memberikan : (a) produktivitas tinggi per satuan luas lahan,   (b) biaya produksinya efisien, dan (c) kualitas produknya tinggi, sebagai berikut :

Varietas

Sesuai dengan kondisi lingkungan setempat, varietas jagung unggul yang dianjurkan adalah jenis hibrida atau komposit/bersari bebas antara lain varietas Lamuru, Srikandi Kuning-1, dsb. Lamuru adalah jenis jagung komposit yang relatif tahan terhadap cekaman kekeringan dengan potensi hasil 7-8 ton/ha. Srikandi Kuning-1 yang potensi hasilnya     8,0 ton/ha mempunyai kualitas protein yang lebih baik daripada Lamuru.

Benih

Benih berkualitas, dengan daya kecambah tidak kurang dari 95 %, dan diberi perlakuan benih yaitu 2 g metalaksil (Ridomil atau Soromil) per 1 kg benih. Setiap 2 g Ridomil atau Soromil dicampur dengan 10 ml air kemudian dicampur dengan 1 kg benih secara merata. Kebutuhan benih untuk 1 ha lahan berkisar antara 15-20 kg.

Penyiapan lahan  

Penyiapan lahan dilakukan secepatnya  setelah panen padi baik tanpa pengolahan tanah maupun dengan pengolahan tanah. Tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan utamanya pada tanah yang mempunyai tekstur ringan. Penyiapan lahan tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan dengan membersihkan lahan dari sisa-sisa jerami padi, dan jika dinilai keberadaan gulma juga dapat mengganggu saat pertumbuhan awal tanaman maka dapat dilakukan penyemprotan dengan herbisida paraquat/glyphosat (1-2 ton/ha) saat 1 minggu sebelum waktu tanam yang ditentukan. Penyiapan lahan dengan sistem olah tanah sempurna dapat dilakukan dengan bajak yang ditarik traktor/sapi atau cangkul sampai lahan siap ditanami. Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah panen padi dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan air selama pertumbuhan tanaman, dibuat beberapa sumur gali atau sumur bor pada pinggir petakan sawah. Untuk menaikkan air dan dalam sumur digunakan mesin pompa air yang kapasitasnya disesuaikan dengan debit air yang ada. Jika debit air sumur yang tersedia terbatas maka pada setiap  titik dibuat dua sumur yang berdekatan dan keduanya saling dihubungkan dengan pipa dan pompa dengan satu mesin pompa. Untuk hamparan yang luas, sumur dibuat dibeberapa tempat dan pompa air dapat digunakan secara berpindah-pindah dari petakan satu ke petakan lain.

Penanaman

Penanaman dapat dilakukan secepatnya setelah pengolahan tanah selesai dan lahan siap ditanami dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang cukup mampu untuk menumbuhkan benih. Jika pada saat menjelang penanaman lahan kondisinya sudah mulai kering maka perlu diberikan air dari irigasi air tanah dangkal (sumur bor dengan pompa yang telah disiapkan sebelumnya).


Bagi wilayah dengan kondisi :

• Pemilikan lahan luas, petakan sawah luas, tenaga kerja terbatas, dan tersedia jasa penyewaan traktor, penanaman dapat dilakukan dengan alat tanam ATB1-2R-Balitseral (ditarik hand tractor) yang dapat menanam/menjatuhkan benih, dan menutup benih secara simultan dan otomatis sehingga penanaman dapat dilakukan dengan cepat dan efisien. Jika untuk penutup benih dikehendaki pupuk kandang kotoran ayam ras, maka komponen alat tanam 75 cm x 40 cm, 2 benih per lubang tanam. Jika tidak tersedia hand tractor penanaman dapat dilakukan dengan sistem alur yang dibuat dengan bajak singkal yang ditarik dengan sapi. Benih diletakkan dalam alur yang jaraknya antar alur 75 cm dan dalam alur 40 cm, 2 benih per penempatan dan benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras.

gambar

 

 

 

 

 

 

 

• Pemilikan lahan sempit, petakan sawah sempit, dan tenaga kerja tersedia, maka penanaman dilakukan secara konvensional dengan tugal kayu menggunakan tenaga manusia. Jarak tanam 75 cm x 40 cm, 2 benih per lubang tanam, dan benih ditutup dengan pupuk kandang kotoran ayam ras.

Pemupukan

Pupuk organik/kotoran sapi/kerbau/kambing/ayam ras, diaplikasikan pada saat tanam sebanyak segenggam (25-50 g) per lubang penempatan benih (sebagai penutup benih, setara dengan 1,5 ton/ha.

Cara Aplikasi pupuk:

  • 7-10 hst : Urea + SP36 + KCl sebelum diaplikasikan dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 7,5-10,0 cm sedalam       5,0-7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 20-30 hst : pupuk Urea + KCl dicampur merata, dan segera diaplikasikan secara ditugal di samping tanaman berjarak 10-15 cm sedalam 5,0–7,5 cm dan ditutup tanah.
  • 40-45 hst : sebelum pemberian pupuk urea ketiga, sebaiknya dilakukan pemeriksaan warna daun dengan mengunakan Bagan Warna Daun (BWD). Dengan menggunakan BWD akan diketahui jumlah pupuk yang harus ditambahkan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jika warna daun menunjukkan telah cukup pupuk, maka pemberian pupuk urea yang ketiga tidak perlu diberikan, sedangkan jika masih diperlukan pemberian pupuk urea maka sesuai dengan warna daun ditambahkan pupuk sebanyak yang diperlukan dengan cara ditugal di samping tanaman berjarak 15-20 cm sedalam 5,0-7,5 cm dan ditutup tanah. Dengan cara ini maka takaran pupuk urea dapat berkurang atau bertambah sesuai kebutuhan tanaman sehingga lebih efisien.

Setiap selesai aplikasi pupuk, lahan diairi melalui alur irigasi yang telah dibuat pada setiap dua baris tanaman.

Pupuk anorganik semuanya bersumber dari pupuk tunggal :

Hara yang ditambahkan/pupuk
Takaran*) (kg/ha) Waktu aplikasi pupuk (hst)**)
7-10 25-30 40-45
Urea
SP36
KCL
ZA*)
300-350
100-200
50-100
50-100
30 %
100 %
50 %
100 %
60 %
-
50 %
-
30 %
-
-
-

Catatan :
*)  Diberikan jika tanah kekurangan unsure hara sulfur (S)
**) Takaran pupuk dapat diubah disesuaikan dengan ketersediaan  hara  dalam tanah dari hasil analisis tanah.
***) Nilai persentase dari takaran pupuk yang harus diaplikasikan sesuai  umur tanaman.


Pembuatan saluran irigasi

Dalam kondisi keterbatasan air, efisiensi pendistribusian air mutlak diperlukan, untuk itu perlu dibuat saluran irigasi di antara baris tanaman. Pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan pada setiap baris tanaman atau setiap dua baris tanaman. Pembuatan saluran irigasi sebaiknya dikerjakan bersamaan dengan penyiangan pertama (14-20 hst) untuk penghematan tenaga. Pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik dengan hand tractor yang sekaligus berfungsi untuk pembumbunan tanaman agar tumbuh lebih tegak dan tidak mudah rebah. Jika tidak tersedia hand tractor, pembuatan saluran irigasi dapat dilakukan secara manual atau dengan bajak singkal yang ditarik sapi.

Pemberian air

Sumber air diperoleh dari sumur gali atau sumur bor yang telah dibuat dan dinaikkan dengan mesin pompa. Pendistribusian air ke pertanaman dilakukan melalui saluran irigasi yang telah dibuat. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pendistribusian air sehingga lebih efisien. Selama pertumbuhan tanaman jagung, pemberian air biasanya dilakukan sebanyak 5-6 kali atau tergantung kondisi lingkungan. Indikator yang dapat digunakan perlunya pemberian air yaitu jika daun tanaman sebelum waktu tengah hari telah mulai menggulung, maka pemberian air perlu secepatnya dilakukan. Pemberian air dapat dihentikan 10 hari menjelang umur panen tanaman.

Penyiangan

Penyiangan pertama biasa dilakukan pada saat tanaman berumur 14-20 hari setelah tanam dan sekaligus dengan pembumbunan dan pembuatan saluran irigasi dengan alat PAI-1R-Balitsereal yang ditarik dengan hand tractor. Penyiangan kedua pada umur 35-40 hst dengan herbisida paraquat (Gramoxone, dengan takaran 1,0-1,5 liter/ha) tergantung kondisi gulma, namun tetap perlu diperhatikan jangan sampai larutan mengenai daun tanaman. Penyiangan dapat pula dilakukan secara manual dengan menggunakan cangkul.

Panen dan prosesing

Daun dibawah tongkol dapat diambil/dipanen pada saat tongkol telah mulai berisi, dan brangkasannya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Demikian juga sebelum panen sebaiknya dilakukan pemangkasan bagian tanaman di atas tongkol pada saat biji telah mencapai masak fisiologis. Hasil brangkasan daun ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi. Panen dilakukan pada 1-2 minggu sesudah masak fisiologis dalam kondisi kering, sampai kadar air biji < 28% (biji telah mengeras dan telah membentuk lapisan hitam/black layer minimal 50 % di setiap barisan biji). Selanjutnya tongkol dijemur sampai kadar air biji mencapai sekitar 18% dan dipipil dengan menggunakan alat pemipil. Hasil biji pipilan dijemur lagi sampai kadar air mencapai 14 % untuk siap dijual. Proses pengeringan tongkol dan biji hasil dari pertanaman pada lahan sawah umumnya cukup dengan sinar matahari karena panen pada saat musim kemarau sehingga biaya produksi dapat lebih efisien.

Seri        : Tanaman Pangan

Nomor                   :  01/B/BPTP-Sulsel/2007
Opeal                    :  750 Exampler
Sumber dana        :  P3TIP/FEATI BPTP Sul-Sel
Sumber Teknologi :  Balitsereal Maros

 

Tahun Terbit 2007 BPTP SULSEL

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 05 Desember 2012 12:19
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com