Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Panduan Petunjuk Teknis Brosur >> Integrasi padi dan ternak


Sampul Brosur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Tujuan utama pembangunan pertanian adalah meningkatkan ketahanan pangan dan mengembangkan system agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan. Ketahanan pangan dan pengembangan system serta usaha agribisnis berdaya saing merupakan salah satu sasaran pembangunan nasional yang harus segera diwujudkan, karena akan memberi dampak yang sangat luas, bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga pada aspek social, politik dan kelestarian lingkungan.

Lebih dari 50 % rumah tangga yang berusaha dibidang pertanian mampu memberikan kontribusi terhadap PDB (Product Domestik Bruto) yang cukup besar yaitu  lebih  dari 16 %.

Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap produk impor (daging dan beras). Hal ini akan menjadi masalah nasional yang tidak dapat terselesaikan apabila tidak ada terobosan teknologi peningkatan produksi, karena kebutuhan dalam negeri semakin bertambah sebagai akibat bertambahnya jumlah penduduk serta meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi.

Masalah pengembangan ternak potong di Sulawesi Selatan salah satunya adalah semakin sempitnya lahan penggembalaan atau padang rumput sebagai akibat dari alih fungsinya tanah. Demikian juga untuk lahan sawah yang semakin intensif penggunaannya (IP 300), sehingga kesempatan ternak sapi untuk merumput berkurang. Sawah yang diolah secara terus menerus dengan menggunakan pupuk an organic menyebabkan produksi padi tetap atau cenderung menurun sebagai akibat dari penyusutan bahan organic tanah tanpa ada upaya untuk memperbaiki kondisi kesuburan tanah. Upaya keluar dari permasalahan tersebut diatas, dapat dilakukan melalui perbaikan pola usahatani integrasi sapid an padi pada lahan sawah, dimana padi menghasilkan limbah sebagai pakan sapi dan sapi menghasilkan kotoran ternak sebagai pupuk organic untuk tanaman padi.

Integrasi sapi dan padi dilahan sawah ternyata cukup berhasil dikembangkan di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur. Salah satu kunci keberhasilan pendekatan ini adalah teknologi dan inovasi dalam menyimpan dan meningkatkan gizi jerami padi. Selain itu upaya mengolah dan memanfaatkan kompos kotoran ternak menjadi pupuk organic yang bermutu dapat meningkatkan kesuburan tanah. Dari hasil penelitian dan pengalaman ini membuktikan bahwa pola integrasi  sapid an padi dapat memanfaatkan untuk menghasilkan sapi bakalan, sekaligus membantu dalam upaya meningkatkan penghematan (efisiensi) dan pendapatan petani padi (aneka panen).

Pengembangan pola integrasi sapid an padi di Sulawesi Selatan sangat perlu untuk dilaksanakan karena daerah ini memiliki luas persawahan 642.340 ha (Dinas Pertanian Tanaman Pangan,1999), dan populasi sapi potong sebesar 783.659 ekor (Dinas Peternakan,1998). Kedua komoditi ini sampai sekarang cenderung berdiri sendiri dan terpisaah, sawah pada umumnya ditanami padi serta palawija sedangkan ternak dipelihara diluar areal persawahan. Dengan adanya teknologi fermentasi limbah pertanian bermanfaat untuk memperkaya nilai gizi dan daya cerna. Selain itu fermentasi kotoran ternak akan diperoleh pupuk organic yang berkualitas. Dengan demikian pola integrasi sapid an padi merupakan system usahatani yang efektif untuk peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi yang cenderung menurun akibat rendahnya kandunagan bahan organic dalam tanah serta merupakan sumber pertumbuhan baru bagi pengembangan populasi sapi potong di Sulawesi Selatan.

KEUNTUNGAN

Pola integrasi sapi dan padi dilahan sawah dapat memberikan keuntungan dapat memberikan keuntungan anatara lain :

a. Diversifikasi penggunaan sumberdaya produksi
b. Mengurangi resiko terjadinya kegagalan produksi
c. Efisiensi penggunaan tenaga kerja
d. Efisiensi penggunaan komponen produksi
e. Mengurangi ketergantungan energi kimia dan energi bilogi serta masukan sumberdaya lainnya dari luar
f. Sistem ekologi lebih lestari dan tidak menimbulkan polasi, sehingga melindungi lingkungan hidup
g. Meningkatkan out put dan pendapatan, serta mengembangkan rumah tangga petani yang lebih stabil.

KEGUNAAN INTEGRASI SAPI DAN PADI

Integrasi  padi dan sapi di lahan sawah dapat dipergunakan sebagai satu alternative untuk mempercepat peningkatan produksi padi dan sapi melalui :

a. Aplikasi teknologi dan inovasi sederhana, dengan memanfaatkan hasil samping (limbah) pertanian dan perkebunan sebagai bahan pakan ternak. Sebagai contoh, fermentasi dan amoniasi jerami padi, pucuk tebu dan limbah lainnya dapat digunakan sebagai pakan ternak sumber serat. Langkah ini sekaligus akan mengamankan ketersediaan pakan sepanjang tahun.

b. Kotoran ternak dan sisa pakan serta hasil panen lainnya dapat di dekomposisi menjadi kompos dengan cara cepat, mudah dan murah guna penyediaan unsure hara bagi lahan sawah melalui Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

c. Penggunaan kompos berkualitas telah terbukti akan meningkatkan efisiensi dan produksi padi dan tanaman pada umumnya, sekaligus memberi peluang peningkatan pendapatan petani dan menjaga kelestarian lahan persawahan/pertanian.   

d. Upaya memadukan ternak dengan usaha pertanian akan membawa dampak pada system budidaya, kehidupan social dan aktivitas ekonomi kearah yang positif. Budidaya ternak akan semakin efisien, karena ketersediaan pakan secara kontinyu, problem social yang sering terjadi akibat limbah yang menimbulkan polusi (kotoran ternak, sisa pemen, limbah perkebunan/pertanian) dapat diatasi dan membawa pengaruh yang baik, sedangkan secara ekonomis petani dapat melakukan efisiensi usahatani sehingga tingkat pendapatan semakin meningkat. Akhirnya kemandirian petani dalam berusaha dapat diwujudkan dan ketergantungan sarana produksi dari luar dapat ditekan.

e. Pola pemeliharaan ternak system kelompok akan memberi peluang untuk mengembangkan system dan usaha agribisnis berdaya saing. Walaupun kepemilikan masing-masing petani masih sangat kecil, pola ini akan memudahkan dalam penyuluhan dan pengamanan ternak dari pencurian, mengurangi dampak perusakan lingkungan dan meningkatkan kebersihan lingkungan serta memudahkan dalam mengembangkan system kelembagaan, terutama dalam hal permodalan dan pemasaran produk.


POTENSI KAWASAN PERSAWAHAN

Produksi jerami padi dalam satu hektar sawah setiap kali panen mampu menghasilkan sekitar 10-12 ton jerami (berat segar saat panen), meskipun bervariasi tergantung pada lokasi, jenis varietas tanaman padi, cara potong (tinggi pemotongan) dan waktu pemotongan, seperti pada varietas Sintanur dengan tinggi pemotongan 8 cm dari tanah dapat menghasilkan 8-10 ton jerami segar per ha. Jerami padi yang dihasilkan ini dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor sepanjang tahun sehingga pada lahan yang mampu panen 2 kali setahun  akan dapat menunjang kebutuhan pakan tersebut untuk 4-6 ekor. Disamping jerami padi, dapat pula digunakan dedak padi sebagai salah satu komponen bahan pakan untuk menyusun ransum ternak.

POTENSI SAPI SEBAGAI PENGHASIL PUPUK ORGANIK

Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8-10 kg setiap hari. Apabila kotoran sapi ini diproses menjadi pupuk Organic dapat diharapkan akan menghasilkan 4-5 kg per hari. Dengan demikian, pada luasan sawah satu hektar dapat diharapkan akan menghasilkan sekitar 7,3 ton sampai dengan 11,0 ton pupuk organic perhektar. Sementara itu, penggunaan pupuk organic pada lahan persawahan adalah 2 ton perhektar untuk setiap kali tanam, sehingga potensi pupuk organic yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organic untuk 1,8 ha sampai dengan 2,7 ha dengan dua kali tanam setahun.

INTEGRASI SAPI PADA KAWASAN PERSAWAHAN

Dalam upaya pemanfaatan sumberdaya lokal secara optimal, pada kawasan persawahan dapat dikembangkan usaha pemeliharaan sapi. Hal ini berkaitan dengan adanya jerami padi yang berlimpah setiap kali musim panen. Untuk memanfatkan potensi pakan berseraty tersebut, perlu dikembangkan rencana unit bisnis yang meliputi unit proses peningkatan kualitas nutrisi jerami padi, unit pemanfaatan jerami padi yang telah diproses sebagai pakan sapi, unit pembuatan pupuk organic serta unit pemanfaatan pupuk organic untuk menjaga kelestraian kesuburan lahan persawahan. Dengan demikian pada satu kawasan persawahan dapat menghasilkan padi sebagai produk utama, daging sebagai hasil usaha peternakan. Hasil pengamatan terhadap usaha integrasi sapid an padi dapat memberikan tambahan pendapatan petani yang berasal dari peningkatan berat badan sapi, nilai pupuk organic dan peningkatan produksi gabah kering giling.

Produksi lahan persawahan sebagai penghasil pangan perlu dipertahankan melalui penanganan mutu fisika, kimia dan mikrobilogi tanah sehingga kesehatan tanah dapat meninjang kebutuhan tanaman padi dengan baik. Penggunaan pupuk organic secara terus-menerus dalam jangka waktu lama ternyata dapat menyebabkan perubahan struktur tanah yang cenderung membuat kondisi tanah yang pada akhirnya tidak mampu lagi mengikat unsur hara dengan baik. Pada kondisi seperti ini kemungkinan terjadi in efisiensi pemanfatan unsure hara menjadi lebih besar. Salah satu cara untuk mengembalikan kesehatan tanah adalah melalui perbaikan struktur tanah dan pemenuhan mikro biologi tanah. Penggunaan pupuk organic pada lahan persawahan memberikan peluang untuk menambah kandungan bahan organic tanah serta mikrobilogi tanah.

Dengan penggunaan pupuk organic juga diharapkan akan mengurangi biaya pupuk an organic. Dalam kaitannya dengan penyediaan pupuk organic tersebut, maka pemeliharaan sapi pada kawasan persawahan memberikan peluang besar untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang ada pada kawasan tersebut, misalnya jerami padi yang dapat digunakan sebagai pakan sapi yang pada gilirannya sapi akan menghasilkan kotoran yang dapat diproses menjadi pupuk organic. Dengan demikian pada kawasan persawahan tersebut selain menghasilkan pangan dalam bentuk beras juga akan mampu menghasilkan daging. Lahan pertanian memerlukan pupuk organic untuk mempertahankan kesehatan tanah serta kecukupan untur hara tanaman.

Integrasi sapi pada kawasan persawahan ini pada prinsipnya untuk memanfatkan potensi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahankan kesehatan lahan melalui siklus unsure hara secara sempurna dari sawah, jerami, sapi pupuk organic dan kembali kesawah lagi.

STRATEGI PEMANFAATAN JERAMI SEBAGAI PAKAN TERNAK

Untuk meningkatkan kualitas jerami padi perlu dilakukan proses fermentasi terbuka selama 21 hari. Hal ini dilakukan dengan menggunakan probiotik (starbio) sebagai pemicu proses pemecahan komponen serat dalam jerami padi, sehingga akan lebih mudah dicerna oleh ternak.

Proses fermentasi terbuka ini dapat dilakukan sebagai berikut : pembuatan jerami padi fermentasi dilakukan pada tempat yang terlindung dari hujan maupun sinar matahari langsung. Proses pembuatan dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap fermentasi dan tahap pengeringan dan penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang padi yang baru dipanen dari sawah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan dan diharapkan masih mempunyai kandungan air sekitar 65 %. Bahan yang digunakan dalam proses fermentasi adalah urea dan pribiotik (starbio), yaitu campuran dari berbagai mikro organisme yang dapat membantu pemecahan komponen serat dalam jerami padi tersebut. Jerami segar yang akan dibuat menjadu jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan + 20 cm, kemudian ditaburi dengan urea dan probiotik secukupnya dan diteruskan dengan lapisan timbunan jerami padi berikutnya yang juga setebal sekitar + 20 cm.
Demikian seterusnya sehingga ketebalan tumpukan jerami padi mencapai sekitar 1 hingga 2 meter.  Jumlah urea yang digunakan adalah mengikuti takaran sebanyak 5 kg urea untuk setiap ton jerami padi segar. Demikian pula takaran probiotik yang digunakan adalah 5 kg pribiotik untuk setiap ton jerami padi segar.

Setelah pencampuran urea dalam prebiotik pada jerami padi tersebut dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentasidapat berlangsung dengan baik. Setelah itu pada tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami pada fermewntasi tersebut.

Tumpukan jerami padi yang telah difermentasi dikeringkan dibawah sinar matahari dianginkan, sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasidapat diberikan pada ternak sapi sebagai pakan pengganti rumput segar. Dengan demikian pemanfaatan hijauan pakan ternak dalam bentuk jerami padi akan dapat dilakukan sepanjang tahun dan lebih efisien dalam pemanfaatan waktu dan tenaga peternak.

PENERAPAN TEKNOLOGI

A. Teknologi fermentasi jerami sebagai pakan ternak sapi

- Jerami ditumpuk sehingga +  30 cm, ditaburi urea, pribiotik dan kemudian disiram air secukupnya mencapai kelembaban + 60 % dengan tanda-tanda apabila jerami diremas air tidak menetes tetapi tangan kita basah.
- Tahapan pertama diulangi terus sampai mencapai   ketinggian minimal 1,5 meter
- Tumpukan jerami dibiarkan selama 21 hari
- Setelah 21 hari tumpukan jerami dibongkar dan diangin-anginkan
- selanjutnya jerami fermentasi siap diberikan pada sapi atau disimpan sebagai pakan ternak cadangan
- Untuk 1 ton jerami padi kering panen difermentasikan dengan menggunakan probiotik 5 kg dan urea 6 kg.

B. Teknologi pembuatan kompos kotoran ternak

- Kumpulkan kotoran sapi, kencing sapid an sisa makanan ditempat yang sudah disiapkan, kemudian campurkan dengan sekam/abu dapur (10 %) dan serbuk gergaji (5 %).
- Setelah bahan-bahan tersebut diatas dicampur dengan merata, biarkan selama 1 bulan
- Kemudian tambahkan lagi campuran koloni mikroba (stardec), pada setiap tumpukan 30 cm hingga mencapai tumpukan + 1 meter. Hindarkan dari sengatan matahari langsung dan air hujan.
- Lakukan pembalikan sebanyak 4 kali selama 28 hari yaitu sekali pembalikn setiap 7 hari
- Setelah hari ke 28 proses pengomposan sudah selesai
- Lakukan penyaringan secara fisik dengan cara mengayak kompos
- Pupuk kompos siap digunakan untuk tanaman
- Dikemas dalam kantong plastic untuk dipasarkan.

PEMANFAATAN JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK

Untuk meningkatkan mutu gizi jerami padi perlu dilakukan proses fermentasi secara terbuka selama 21 hari. Hasil analisis jerami padi segar dan fermentasi dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Kandungan gizi jerami padi segar dan fermentasi

Zat Makanan
Jerami segar (%)
Jerami fermentasi (%)
1. Kadar air
2. Abu
3. Serat kasar
4. Lemak
6. BETN
6,750
19,750
27,300
1,120
40,190
9,975
1,950
9,700
2,480
66,652

Sumber : BPTP Jawa Barat (2001)

Jika kita perhatikan tabel 1 diatas tampak bahwa jerami padi yang difermentasi dengan probiotik, kandungan protein mengalami peningkatan dari 4,002 % menjadi 9,089 %.

Pemberian jerami fermentasi tidak terbatas (ad libitum) dengan tambahan ransum pakan 6% dedak + 1% bungkil kelapa + 3% bungkil jagung yang diberikan sebanyak 1% dari berat badan sapi perhari, memberikan tambahan kenaikan berat badan pada sapi bakalan ± 0,43kg/ekor/hari dan induk ± 0,14 kg/ekor/hari. Untuk mengetahui lebih lanjut dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini .

Tabel 2.  Rata- rata pertambahan berat badan dan konsumsi pakan sapi bali di Kabupaten Takalar.

 

Uraian

Perlakuan

Kandang Kolektif

Kandang Petani

Bakalan

Induk

Bakalan

Induk

Konsumsi (kg/ekor/hari)

 

 

 

 

· Jerami fermentasi

4,42

4,76

-

-

· Campuran dedak, bungkil jagung, bungkil kelapa (6:3:1)

2,50

2,03

-

-

· Garam dapur dan SP36 (3:2)

0,01

 

 

· Pertambahan berat badan /ekor/hari

0,43

0,14

0,19

0,03

Sumber : Sariubang, dkk (2003)

Nampak pada tabel 2 bahwa pertambahan berat badan sapi yang dikandangkan dan diberi pakan utam jerami padi lebih tinggi dibandingkan sapi yang dipelihara secara tradisional (Dikandang petani). Sementara hasil kajian BPTP Jawa Barat (2001) menunjukkan bahwa pertambahan hrat badan pada sapi penggemukan dengan pakan utama jerami fermentasi rata- rata 0,83 kg/ekor/hari. Hasil pengkajian ini memberikan gambaran bahwa fermentasi jerami sangat potensial di jadikan pakan utama pada sapi potong. Namun pemberian komposisi ransum disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan sapi yaitu penghasil bibit, penggemukan dan pemerahan.

PEMANFAATAN KOMPOS KOTORAN TERNAK SEBAGAI PUPUK ORGANIK

Hasil penelitian BPTP Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh sariubang, dkk (2002) melaporkan bahwa pemberian pupuk organic 2 ton + 105,6 Kg Urea + 100 kg ZA + 33,3 Kg KCI dapat menghasilkan gabah 6,38 ton/ha. Sementara pemberian 2 ton pupuk organik dan pengurangan pupuk an organic 75 kg urea + 50 kg ZA + 25 Kg SP-36 + 25 Kg KCI menghasilkan gabah 5,6 ton/ha.

Adapun komposisi unsure hara yang terkandung dalam pupuk organic yang bersal dari kompos ternak dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3.  Komposisi unsure hara pupuk organic yang berasal dari kompos ternak sapi.

Unsur Hara Jumlah (%)
1. Nitrogen (N)
2. Fosfat (P2O5)
3. Kalium (K2O)
4. C Organik
5. Magnesium (MgO)
6. C/N ratio
0,7 – 1,3
1,5 – 2,0
0,5 – 0,8
10,0 – 11,0
0,5 – 0,7
14,0 – 18,0

Sumber BPTP Sulawesi Selatan

Pelaksanaan kegiatan integrasi sapid an padi dilahan sawah perlu dilakukan secara berkelompok, supaya pengandangan ternak dan proses pembuatan pupuk organic, lebih efisien. Misalnya satu kelompok terdiri dari 8 peternak (KK) dengan pemilikan ternak rata- rata 2-4 ekor sapi, setiap hari tenaga kerja yang terlibat rata- rata 2 orang, dan waktu efektif yang dicurahkan untuk memberi pakan dan air minum berkisar antara 2-4 jam/hari.

Gambar 1
Gambar 2
Gambar 1. Setelah Panen Meninggalkan Hamparan Jerami Padi yang tidak dimanfaatkan Gambar 2. Tumpukan Jerami Padi yang Akan Difermentasi untuk Pakan Ternak Sapi
Gambar 3 Gambar 4
Gambar 3. Proses Fermentasi Gambar 4. Jerami Padi yang Sedang Dalam Proses Fermentasi
Gambar 5 Gambar 6
Gambar 5. Jerami yang sudah Difermentasi Siap Diberikan pada Ternak Sapi Gambar 6. Sapi yang sedang Makan Jerami yang sudah di Fermentasi
Gambar 7 Gambar 8
Gambar 7. Sapi yang sedang Diberi Pakan Jerami Dikandangkan Secara Kolektif Gambar 8. Kotoran Ternak Sapi Ditampung untuk Dikomposkan dan Dijadikan sebagai Pupuk Organik pada Padi

ANALISA EKONOMI

Untuk mengetahui tingkat pendapatan ternak dengan pemanfaatan jerami fermentasi sebagai pakan ternak sapi dapat dilihat pada tabel 4 dibawah ini.

Tabel 4.  Analisa ekonomi pemeliharaan sapi selama 6 bulan dengan pakan jerami fermentasi di Kabupaten Takalar.

 

Uraian
Perlakuan
Jerami Fermentasi (Rp)
Kontrol (Rp)
Biaya Produksi
- Ternak Bakalan
1.500.000
1.500.000
- Pakan
216.000
-
- Obat-obatan
25.000
25.000
- Tenaga Kerja
5.000
100.000
- Penyusutan
2.000
-
- Pemasaran
15.000
15.000
Total
1.763.000
1.640.000
Penjualan
2.661.000
2.040.000
Keuangan
898.000
400.000
B/C Ratio
1,509
1,243

Sumber : Sariubang, dkk (2003)

Pemberian jerami fermentasi ditambah dengan dedak, bungkil jagung dan bungkil kelapa (6:3:1) yang diberikan sebanyak 1% dari berat badan ternak, mampu memberikan keuntungan sebesar Rp, 898.000 lebih besar daripada control  (cara petani) yang hanya berkisar Rp. 400.000.

MANFAAT PUPUK ORGANIK TERHADAP TANAMAN PADI

Sejak lebih dari lima tahun terakhir terlihat kecenderungan gejala kejenuhan teknologi produksi padi yang diindikasikan oleh pelandaian produksi. Walaupun terjadi gejala pelandaian produksi dan penurunan produktivitas lahan sawah intensif didaerah-daerah pusat produksi padi, system intensifikasi padi sawah, khususnya sawah irigasi tetap menjadi tumpuan utama peningkatan produksi nasional. Pada masa-masa mendatang, penanaman padi dua kali atau lebih dalam setahun akan mendominasi lahan beririgasi di Indonesia. Oleh sebab itu, tanpa upaya terobosan dan strategi yang tepat, peningkatan produksi akan semakin sulit dicapai (Irsal las dalam Tim PTT Balitpa, 2001).

Beberapa penelitian memberikan indikasi bahwa dalam jangka panjang monokultur padi secara intensif dan terus menerus dapat menurunkan produktivitas lahan. Baik dalam kaitannya dengan degradasi sumberdaya (air dan tanah), maupun peledakan hama penyakit, dan atau berkurangnya keseimbangan ekosistem. Kerusakan lingkungan produksi akibat praktek intensifikasi pada ekosistem sawah telah lama terjadi, yang sebelumnya tidak kita sadari. Hal ini terlihat dari peningkatan produktivitas padi sawah pertahun yang tertinggi adalah dalam periode 1978 – 1983, yaitu sebesar 206 kg/ha/tahun, selanjutnya menurun sampai dalam periode 1993-1998 produktivitas padi sawah berkurang sebesar 42 kg/ha/tahun.

Namun demikian Karen desakan kebutuhan yang terus meningkat, kegiatan intensifikasi padi pada lahan sawah irigasi akan tetap dilakukan. Oleh sebab itu perlu upaya-upaya konseptual dan terpola agar degradasi sumberdaya, terutama tanah dapat dieliminir, bahkan jika mungkin kesuburannya harus ditingkatkan.

Kondisi serupa juga terjadi di Sulawesi selatan, bahwa beberapa terobosan peningkatan produktivitas tida seimbang dengan peningkatan pendapatan petani, karena biaya produksi, baik tenaga kerja ataupun sarana produksi tidak setara dengan peningkatan harga gabah. Keadaan tersebut memaksa petani untuk menerapkan paket rekomendasi sesuai kemampuan yang dimiliki, sehingga peningkatan produktivitas cenderung menurun, selain fenomena degradasi lahan.

Kondisi tanah pada sentra produksi beras di Sulawesi Selatan saat ini kadar bahan organiknya sebagian besar tergolong rendah (Tabel 1). Bahan organic tanah yang dicirikan oleh kandungan C-organik tanah dibedakan ke dalam rendah, sedang dan tinggi seperti ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase status C-organik tanah sawah di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang dan Luwu.

No
Status kadar C-Organik

 

Batas Nilai


Kabupaten
Bone
Soppeng
Wajo
Sidrap
Pinrang
Luwu
...%...
.......
.............
........%
.........
...........
........
1
Rendah
< 2
85
85
97
52
15
26
2
Sedang
2-4
15
15
3
48
85
74
3
Tinggi
> 4 0
0
0
0
0
0

Sumber : Damdam (2000)

Kadar C-organik tanah di Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo dan Sidrap pada umumnya rendagh ( < 2 %), di beberapa tempat bernilai sedang (2-4%). Sebagaimana telah disebutkan bahwa di wilayah-wilayah tersebut dimana lahan petani bersih akibat pembakaran jerami, mengakibatkan kadar C-oeganik tanah rendah. Petani diwilayah ini belum memanfaatkan jerami padi sebagai penyubur tanah atau mulsa.

Sedangkan untuk Kab. Sidrap rendahnya C-oganik, lebih banyak disebabkan karena tekstur tanahnya berpasir. Beberapa wawancara yang dilakukan dengan petani menunjukkan bahwa para petani sudah ada yang menggunakan urea sampai 350-400 kg/ha untuk memperoleh hasil yang dulunya hanya dipupuk dengan 200 kg urea/ha. Tuntutan akan urea yang kian meningkat tersebut membuat sebagian petani mengabaikan kebutuhan tanaman padi akan P dan K, sehingga kuantitas dan kualitas hasil yang diperoleh cenderung menurun.

Masalah dominant yang dihadapi petani padi pada umumnya (termasuk di Sulawesi Selatan) adalah jatuhnya harga gabah jauh di bawah harga dasar (pada periode 1999-2000) dan lebih rendah disbanding tahun-tahun sebelumnya, serta meningkatnya harga pupuk sejak subsidi pupuk dihapus yang menyebabkan kian menurunnya pendapatan petani padi. Bila kita simak rasio harga pupuk urea dan harga gabah rill yang diterima petani yang beredar dipasaran sejak tahun 1989 hingga saat ini kian membesar (Tabel 2), apalagi jika dibandingkan dengan harga pupuk SP-36 dan KCL yang telah mencapai Rp. 2.200/kg. Arti dari rasio tersebut adalah untuk membeli 1 kg urea pada tahun 1999 – 2000, petani harus menjual 1,3-1,5 kg gabah, sementara pada tahun-tahun sebelumnya (1989-1998) untuk membeli 1 kg urea, petani hanya menjual gabah 0,65-0,78 kg (Tabel 2).

Tahun Terbit : 2003  BPTP SULAWESI SELATAN

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 05 Desember 2012 12:21
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com