Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Panduan Petunjuk Teknis Brosur >> Pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu padi sawah (PTT) di sulawesi selatan


Sampul PTT Padi Sawah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I. PENDAHULUAN

Sulawesi Selatan sebagai pemasok beras di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan salah satu lumbung pangan Nasional mempunyai lahan sawah seluas 625.215 ha (BPS, 1999), dimana terdapat 58 % lahan sawah beririgasi yang sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal sehingga pendapatan petani belum optimal bahkan cenderung menurun. Menurunnya pendapatan petani khususnya di Sulawesi Selatan disebabkan  oleh beberapa hal, salah satu diantaranya adalah kandungan bahan organic persawahan di Sulawesi Selatan pada umumnya rendah yaitu kurang dari 2 % (Damdam, 2000).

Laju peningkatan produktivitas tanaman padi sawah kini cenderung melandai. Sistem intensifikasi padi sawah yang selama ini diterapakn tidak  dapat lagi diharapkan mampu meningkatkan produksi dan produktivitas. Hal ini disebabkan pengelolaan lahan yang kurang terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan yang mengakibatkan penurunan kesuburan dan sifat fisik tanah. Karena itu diperlukan system pengelolaan tanaman dan sumberdaya terpadu (PTT) yang bertujuan untuk mengelola tanaman, tanah, air dan unsure hara secara terintegrasi untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik, produksi hasil lebih tinggi dan berkelanjutan.

II. KONSEP DAN PENDEKATAN

Model PTT mengacu pada keterpaduan teknologi sumberdaya setempat yang dapat menghasilkan efek sinergis dan efisiensi tinggi, sebagai wahana pengelolaan tanah dan sumberdaya spesifik lokasi. Pada dasarnya PTT bukanlah paket teknologi yang tetap, tapi merupakan model atau cara pendekatan usahatani, bahkan filosofi.

Pendekatan yang ditempuh dalam PTT adalah sebagai berikut:

1. Partisipasi Petani :

Pendekatan partisipatif merupakan pendekatan yang diharapkan bias menjamin keberlanjutan system produksi pertanian. Dalam PTT partisipasi petani ikut menentukan pengembangan yang akan dilakukan di lahannya.

2. Optimalisasi pemanfaatan sumberdaya di daerah spesifik

PTT bersifat spesifik lokasi, pemanfaatan sumberdaya sesuai dengan yang tersedia di lokasi yang bersangkutan dan kemampuan petani. Sumberdaya yang digunakan dikelola secara optimum, mempertimbangan keterkaitannya dengan komponen produksi lainnya.

3. Efisiensi Penggunaan Input

Efisiensi Penggunaan Input ditujukan pada upaya peningkatan hasil, pendapatan petani dan kelestarian lingkungan. Setiap komponen teknologi PTT yang digunakan harus tepat jumlah, tepat waktu dan cara sesuai kondisi setempat.

Khusus untuk pemupukan N, penggunaan LCC (leaf Colour Chart)/BWD (Bagan Warna Daun) dapat dianjurkan karena pemberian pupuk N sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pemberian pupuk P dan K didasarkan pada hasil analisis tanah (status hara tanah). Prinsip-prinsip PHT dalam pengendalian organisme pengganggu tetap diperlukan.

4. Sinergisme dan efek berantai anatara komponen-komponen prodoksi sinergisme hasil imteraksi antara kmponen produksi perlu digali semaksimal mungkin agar diproleh manfaat yang lebih besar misalnya.

  • Pengolahan tanah yang sempurna. Selain pertumbuhan dan distribus akar yang sempurna, air pada lapisan tanah lebih dalam lebih dapat diserap tanaman sehingga efisiensi pemberian pupuk meningkat, tanaman lebih sehat, tahan rebah dan tahan kekeringan.
  • Pengendalian gulma secara mekanis, dapat menghilangkan gulma, memperbaiki aerasi tanah, merangsang pertumbuhan akar dan mengembalikan bahan organic ke dalam tanah.
  • Pengairan intermitten, dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air, juga merangsang pertumbuhan akar kearah lebih dalam.

5. Pemeliharaan dan peningkatan kesuburan tanah. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dan dipelihara dengan pemberian bahan organic yang tersedia di lokasi, pengaturan drainase dan irigasi untuk membuang zat-zat racun bagi tanaman dalam tarah (besi, asam-asam organic, gas H2S), pengaturan pemberian pupuk untuk mencegah terjadinya penurunan kesuburan tanah.

6. Kerjasama Antar Instansi

Keterlibatan instansi-instansi terkait dengan pembangunan pertanian (perangkat desa, Dinas Pertanian, koperasi, pasar dan lainnya) sangat diharapkan bagi keberhasilan pengembangan PTT dan pemberdayaan petani dalam mengelola lahannya.

III. KOMPONEN UTAMA PTT

1. Pembuatan Kompos Jerami :
  • Kumpulkan jerami
  • Jerami tersbut dipercik larutan urea 10 % (1 takar Urea dilarutkan dalam 10 takar air)
  • Jerami yang telah diberikan percikan urea, dihamparkan diatas lantai/tanah setinggi 30 cm
  • Lapisan dengan kotoran ternak (ayam atau sapi)
  • Lakukan hingga tumpukan jerami mencapai ketinggian 1,80 cm
  • Tutuplah bagian atas jerami dengan plastic agar suhu (panas) tetap terjaga
  • Setelah 2 minggu, jerami dibalik kemudian ditutup kembali sampai waktu 1 bulan
  • Setelah 1 bulan, jerami sudah jadi kompos dan siap digunakan

2. Pengolahan Tanah

  • Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan traktor atau ternak
  • Lakukan pengolahan tanah hingga perbandingan Lumpur dan air 1 : 1 hingga kedalaman 20 cm atau lebih. Dilakukan pada saat tanah mulai jenuh air, tidak menunggu air tergenang
  • Setelah pembejakan 1 sawah digenangi selama +  15 hari, kemudian dilakukan pembajakan II, diikuti penggaruan untuk meratakan dan pelumpuran.
  • Untuk sawah yang mempunyai lapisan olah dalam, pengolahan tanah dilakukan langsung dengan penggaruan tanpa pembajakan, terutama musim kemarau (setelah panen MH)
  • Pupuk organic jerami atau pupuk kandang sebanyak 2 t/ha diberikan pada saat pengolahan tanah kedua, yang diharapkan dapat tercampur rata.,
  • Untuk mempermudah pengaturan air dibuat caren (saluran air) tengah dan caren keliling.
  • Untuk tanam benih langsung (Tabela) dibuat saluran dengan jarak 4-6 m untuk membantu drainase pada saat menyebar benih.

3. Pemilihan Varietas

  • Varietas padi yang digunakan adalah varietas unggul yang telah dilepas, berdaya hasil tinggi, tahan terhadap hama dan penyakit serta sesuai dengan keinginan petani.
  • Untuk daerah endemis tungro, terutama pada musim hujan gunakan varietas membramo, Tukad Balian, Tukad Unda, Tukad Petani, Kalimas dan Bondoyudo.
  • Untuk daerah endemis penyakit hawar daun bakteri gunakan varietas Widas
  • Untuk daerah endemis werwng coklat gunakan varietas Membramo atau Apo Buru.

4. Penyiapan Benih Sehat

  • Penyiapan benih dilakukan dengan cara membenamkan kedalam larutan garam 3 % atau air debu, benih yang digunakan adalah benih yang tenggelam
  • Benih dapat dipilih dengan larutan ZA dengan perbandingan 1 kg pupuk ZA untuk 2,7 liter air
  • Benih yang diperlukan dalam kegiatan PTT hanya 8 – 10 kg/ha
  • Untuk daerah endemis hama penggerek batang gunakan perlakuan benih (seed streatment) menggunakan insektisida Fipronil 50 ST

5. Pesemaian

  • Luas pesemaian 4% dari luas pertanaman  (250 m2 per hektar lahan )
  • Lahan pesemaian dipupuk dengan urea sebanyak 10% dari total urea yang digunakan untuk pertanaman
  • Oesemaian tidak boleh tergenang tetapi cukup basah
  • Lahan pesemaian diberi sekam sebanyak 2kg/m2 untuk memudahkan pencabutan bibit, terutama untuk penggunan bibit muda
  • Pesemaian sebaiknya ditempat yang aman dari serangan tikus, mudah terkontrol, jauh darti sumber cahaya dimalam hari agar terhindar dari serangan hama

6. Tanam Satu Bibit Muda Per Rumpun

  • Penanaman bibit muda  (10-15 hari ) setelah sebar dilakukan dengan cara tanam pindah, menggunakan caplak (system tegal) dengan jarak tanam 25x25 cm atau 20x20 cm.
  • Pada daerah tertentu penanaman dengan system legowo juga dapat dianjurkan
  • Menanam 1 bibit per rumpun, bibit muda akan tumbuh dan berkembang lebih baik.Sistem perakaran lebih intensif, anakan lebih banyak dan lebih mampu beradaptasi dengan lingkungannya

7. Tanam dengan Pola Jajar Legowo

  • Tanam jajar legowo diterapkan untuk daerah yang banyak serangan hama dan penyakit atau kemungkinan keracunan besi
  • Pada lapis karang diantara unit legowo dibuat parit dangkal yang berfungsi untuk mengumpulkan keong emas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi atau untuk pemeliharaan ikan kecil.

8. Pemberian Pupuk

a. N ( Urea )
  • Menggunakan Bagan Warna Daun (BWD)
  • BWD adalah alat untuk mengukur kebutuhan N (urea)
  • pada tanaman padi yang mempunyai skala 1-6
  • Skala 1 (kuning) : tanaman sangat kekurangan  N
  • Skala 6 (hijau tua ) : tanaman sangat kelebihan N
  • Dengan menggunakan BWD kapan tanaman harus di beri pupuk N dan jumlah pupuk yang di berikan .

Cara penggunaan BWD adalah sebagai berikut :

  • Pilih lima daun tanaman padi secara acak untuk setiap petak lahan. Daun yang diukur warnanya adalah yang sudah terbuka penuh. Bandingkan bagian tengah daun tersebut dengan BWD
  • Pada saat melakukan pengukuran, daun harus dilindungi dari sinar matahari, dapat menggunakan tubuh maupun paying dan lain-lain
  • Nilai hasil pengukuran warna daun dicatat dan dirata- ratakan. Sebagai contoh, jika skala dari kelima daun yang diukur masing-masing adalah 4,3,5,4,4, berarti skala warna daun adalah 20 : 5=4.
  • Kalau rata-rata skala warna daun sama atau kurang dari 4 maka tanaman perlu segera diberi pupuk N sebanyak 20 kg atau 45 kg urea perhektar. Jika rata-rata skala warna daun lebih besar dari 4 tanaman belum perlu dipupuk.
  • Pengukuran warna daun dilakukan setiap tujuh hari, mulai 14 hari setelah tanam untuk sytem tanam pindah tegel (20 x 20 cm) atau system tanam pindah legowo.
  • Tanaman tidak perlu diberi pupuk N basah. Pupuk P dan K diberikan sesuai rekomendasi setempat atau berdasarkan hasil analisis tanah.
  • Untuk mendapatkan hasil optimum, unsure hara yang lain seperti S, Ca, Mg, Zn, Cu, dan Si harus dalam keadaan berimbang.

b. P dan K

  • Pemberian pupuk P dan K pada tanaman padi berdasarkan peta status hara P dan K lahan sawah 1 : 50.000, berdasarkan analisis tanah dengan menggunakan metode HCL 25 % atau,
  • Pemberian pupuk P dan K pada tanaman padi berdasarkan rekomendasi yang berlalu di lokasi setempat
  • Hara P yang diperlukan sekitar 10 % dari jumlah N   dan K.
Saran pemberian pupuk P untuk tanaman padi sawah berdasarkan status hara P tanah :
Status hara P tanah Kadar P2O5 (ekstrak HCL 25 %) mgf/100 gr tanah Takaran P (kg SP36/ha/musim)
Rendah
Sedang
Tinggi
< 20
20 – 40
>40
125
75
50*

* dapat diberikan 1 kali untuk tanam 2 musim tanam

Acuan Pemberian Pupuk K Tanaman Padi sawah Berdasarkan Status hara K tanah :

Status hara P tanah
Kadar K2O (ekstrak HCL 25 %), Mg/100 gr tanah
Takaran K (kg KCL/ha/musim)
Rendah
Sedang
Tinggi
< 10
10 – 20
>20
50
0*
0*

* Diberi sisa jerami padi setara 2 ton/ha

c. Hara S, Zn, dan Cu

Pemberian hara S, Zn, dan Cu
Pemberian hara S, Zn, dan Cu pada tanaman padi berdasarkan tingkat kemasaman tanah (pH) dan analisis tanah sebagai indicator kebutuhan hara tanaman seperti pada table berikut :

Gambar PTT Padi Sawah 1
Gambar PTT Padi Sawah 2
Gbr. 1. Onggokan jerami di dalam petakan sawah, siap sebar Gbr. 2. Lokasi Pengkajian PTT di Sulawesi Selatan
Gambar PTT Padi Sawah Gambar PTT Padi Sawah
Gbr. 3. Jerami yang Difermentasi Diatas Pematang Sawah Gbr. 4. Hasil Pertanaman Padi yang Ditanam 1 Batang Umur 15 Hari (bibit muda umur 15 hari)
Gambar 5 Gambar 6
Gbr. 5. Hasil Pertanaman Padi yang Ditanam 1 Batang 15 hari dengan Penyiram Berganti (intermitten) Gbr. 6. Bagan warna daun berfungsi untuk mengukur tingkat kehijauan daun tanaman padi guna mengetahui kapan seharusnya tanaman diberi pupuk N

Kebutuhan pupuk belerang (S) tanaman padi sawah

pH Nilai uji S tanah (ekstraksi 0,5 M CaHPO4)
< 10 ppm S > 10 ppm S
> 6,5
10 kg serbuk S/ha atau 50 kg ZA/ha sebagai pupuk dasar menggantikan pupuk dasar Urea
Tidak perlu diberi S
6,0 – 6,5
5 kg serbuk S/ha atau 20 kg ZA/ha sebagai pupuk dasar menggantikan pupuk dasar Urea
Tidak perlu diberi S
< 6,0
20 kg ZA/ha sebagai pupuk dasar menggantikan pupuk dasar Urea
Tidak perlu diberi S

 

Kebutuhan pupuk Seng (Zn)

pH Tanah
Nilai uji Zn tanah (ekstraksi 1 N HCL)
< 1 ppm Zn
> 1 ppm Zn
> 6,5
5 kg ZnSO4 diberikan sebagai pupuk dasar caranya dilarutkan dalam 250 lt air per ha disemprotkan ketanah sewaktu perataan atau dicampur rata dengan pupuk SP-36 yang juga diberikan sebagai pupuk dasar
Pemberian Zn melalui daun, yaitu 2,5 kg ZnSO4 dilarutkan dalam 250 lt air per ha, lalu disemprotkan ke tanaman padi fase vegetatif akhir
6,0 – 6,5
2,5 kg ZnSO4 diberkan sebagai pupuk dasar. Caranya dilarutkan dalam 250 lt per ha disemprotkan ke tanah sewaktu perataan tanah atau dicampur rata dengan pupuk SP=36 yang juga diberikan sebagai pupuk dasar.
Celupkan bibit padi sebelum ditanam pada larutan 1 % ZnSO4 selama 2 menit
< 6,0
Celupkan bibit padi sebelum ditanam pada larutan 1 % ZnSO4 selama 2 menit
Tidak perlu diberi Zn

 

Kebutuhan pupuk Tembaga (Cu)

pH Tanah
Nilai uji Cu tanah (ekstraksi 1 N HCL)
< 1 ppm Cu > 0,5 ppm Cu
> 6,5
2 kg CuSO4 diberikan sebagai pupuk dasar caranya dilarutkan dalam 250 lt air per ha disemprotkan ketanah sewaktu perataan atau dicampur rata dengan pupuk SP-36 yang juga diberikan sebagai pupuk dasar
Pemberian Cu melalui daun, yaitu 2,5 kg CuSO4 dilarutkan dalam 250 lt air per ha, lalu disemprotkan ke tanaman padi fase vegetatif akhir
6,0 – 6,5
2,5 kg CuSO4 diberkan sebagai pupuk dasar. Caranya dilarutkan dalam 250 lt per ha disemprotkan ke tanah sewaktu perataan tanah atau dicampur rata dengan pupuk SP=36 yang juga diberikan sebagai pupuk dasar.
Celupkan bibit padi sebelum ditanam pada larutan 0,5 % CuSO4 selama 2 menit
< 6,0
Celupkan bibit padi sebelum ditanam pada larutan 0,5 % CuSO4 selama 2 menit biasanya disatukan dengan ZnSO4 bila tanah juga kurang Zn
Tidak perlu diberi Cu

9. Pengendalian Gulma

  • Gunakan herbisida petumbuh seperti Raft 80 WP untuk mengendalikan gulma pada saat tanaman berumur 5 hari setelah tanam
  • Lakukan 1 kali penyiangan dengan tangan pada sat tanaman berumur 25 hari ST diikuti penyiangan dengan landak (gasrok) sebanyak 3 kali pada saat tanaman berumur 25, 35 dan 45 hari setelah tanam
  • Herbisida pratumbuh seperti oksadiardil dapat digunakan dengan takaran 25 g/ha (3 – 5 hst)
  • Untuk herbisida pasca tumbuh metsulfuran 2,4 D dapat diaplikasikan dengan takaran 20 g + 800 ml/ha pada saat tanaman berumur 14 dan 21 hst
  • Lakukan penyiangan mekanis pada saat tanaman berumur 35 hari setelah tanam

10. Pengelolaan Air


Lakukan irigasi berselang (intermitten) dengan cara sebagai berikut:

  • Sewaktu tanam bibit padi tanah sawah dalam kondisi macak-macak
  • Secara berangsur-angsur tanah diairi 2-5 cm hinnga tanaman berumur 10 hst
  • Pengeringan petakan sawah dilakukan dengan cara air dalam petakan dibiarkan habis sendirinya (biasanya kering setelah 5-6 hari)
  • Setelah permukaan tanah (Lumpur) retak selama 2 hari, petakan sawah kembali diairi setinggi 5 – 10 cm
  • Lakukan perlakuan seperti point 3 dan 4 hingga tanaman masuk fase pembungaan
  • Sejak fase keluar bunga hingga 10 hari sebelum panen, lahan terus digenangi dengan tinggi air sekitar 5 cm
  • 10 hari sebelum panen hingga saat panen, lahan dikeringkan untuk mempercepat dan meratakan pemasakan gabah dan memudahkan panen
  • Penerapan irigasi berselang difokuskan pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan hanya dapat dilakukan pada daerah irigasi yang manajemennya baik

11. Pengendalian Hama dan Penyakit

a. Tikus

- Pratanam/Pengolahan Tanah

• Pemantauan dini populasi tikus disekitar tanggul irigasi, pematang sawah dan batas kampong
• Melakukan pembersihan sarang, penutupan liang tikus dan pemadatan pematang. Lakukan perburuan tikus dibantu anjing, jala dan pengomposan belerang

- Masa Persemaian

• Lakukan perburuan tikus diberbagai habitat tikus
• Pemagaran pesemaian dengan plastic setinggi 60 cm, lengkapi perangkap bubu disetiap sisi pagar dengan ukuran 25 x 25 x 60 cm yang terbuat dari ram kawat atau kaleng bekas
• Perangkap bubu diperiksa setiap hari agar tikus atau hewan lainnya yang terperangkap tidak mati dalam bubu

- Fase Vegetatif

• Pemasangan umpan rodentisida antikoagulan dan pengomposan belerang
• Sanitasi lungkungan dengan cara membersihkan semak/gulma di habitat tikus
• Penangkapan tikus mugran yang berasal dari sekitar sawah bero, perkampungan atau saluran irigasi dapat dilakukan dengan system perangkap bubu liner (SPBL) yang terdiri dari pagar plastic setinggi 60 cm sepanjang minimal 100 m. Setiap jarak 20 m dipasang perangkap bubu. SPBL dipasang diantara pertanaman padi dengan habitat tikus, untuk jangka waktu 3 – 5 hari. SPBL dapat dipindah ketempat lain

-    Fase Primordia, Berbunga, Pematangan Bulir dan panen

• Pengomposan lubang aktif tikus dengan belerang
• Pemasangan SPBL dengan arah lubang perangkap bubu berselang seling agar tikus dapat terperangkap dari 2 arah.


b. Wereng Coklat

  • Didaerah endemis wereng coklat, untuk pertanaman musim hujan gunakan varietas tahan seperti IR64, IR74, Membramo dan Way Apo Bur
  • Pada musim kemarau yang ditanam adalah varietas IR42, Cisantana, Canranai, Latium dan Cobodas
  • Khusus jalur pantura Jawa dengan air irigasi golongan I dan II (awal musim hujan) dianjurkan menanam varietas IR64, IR74, Membramo dan Way Apo Buru
  • Wilayah dengan air irigasi golongan III dan IV (pertengahan samapi akhir musim hujan) varietas yang ditanam adalah Cilosari, IR42, Widas dan Maros.
  • untuk penggunaan insektisida lakukan pengamatan pada 20 rumpun tanaman secara diagonal. Hitung werwng coklat (werwng, punggung putih, predator/laba-laba, opionea, paederus dan coccinella), Kepik cyrtorhynus. Hasil pengamatan dijabarkan dalam ke dalam rumus :

A – (5B + 2 L)
D = _____________
20

D = Jumlah werwng terkoleksi
A = Wereng coklat + wereng punggung/20 rumpun tanaman
B = Jumlah predator/20 rumpun tanaman
L = Jumlah kepik  cyrtorhynus.

  • Bila D< 5 ekor pada saat tanaman berumur < 40 hst atau D< 20 ekor pada saat tanaman berumur > 40 hst, insektisida tidak perlu di Aplikasilan, tetapi pengamatan tidak dilanjutkan
  • Insektisida yang digunakan adalah buprofezin untuk pengendalian wereng coklat populasi generasi 1 dan 2, tripnoril dan imidakloprid untuk werwng coklat untuk generasi 1,2,3.

c. Penggerek batang padi

  • Pengendalian secara mekanis dengan memasang perangkap yang dilengkapi formula sexferomon (221 – 18 tld)
  • Perangkap dipasang 16 unit/ha. Satu musim satu kali pemasangan
  • Penggunaan insektisida butiran yang dapat digunakan : karbofuran, karbosulfan dan tipronil
  • Insektisida semprot : dimehip, bensultap, amirtaz dan tipronil
  • Penggunaan insektisida pada fase vegetatif bila 5 % tanaman terserang sundep
  • Penggunaan insektisida pada fase generatif  bila terdapat ngengat tangkapan 100 ekor/minggu dari perangkap feromon atau 300 ekor dari perangkap lampu atau tingkat serangan telah mencapai 5 % pada varietas genjah dan 10 % pada varietas umur dalam

d. Lambing  Batu

  • Pengendalian diawali dengan pengamatan 20 rumpun tanaman secara diagonal. Bila populasi lebih dari 5 ekor/rumpun perlu penggunaan insektisida
  • Insektisida yang digunakan antara lain etripole dan alfametrin

e. Tungro dan Wereng Hijau
Pratanam :

  • Lakukan penanaman seawall mungkin (1-2 bulan lebih awal sebelum puncak populasi wereng) secara serempak minimal seluas 50 ha
  • Gunakan varietas tahan wereng hujau seperti varietas yang termasuk golongan T0 : IR5, Pelita Atomita, Cisadane, Cikapundung dan Lusi
  • Varietas gol T2: IR32, IR36,IR38,IR47, Semeru Asaham, Ciliwung, Krung Aceh dan Bengawan Solo
  • Varietas gol. T3 : IR48, IR52,IR54,IR64
  • Varietas gol.T4 : IR66,IR70,IR72, Barumun dan Klara
  • Varietas tahan virus tungro antara lain : Tukad Balian Tukad Petanu, Tukad Unda, Kalimas Dan Bondoyudo

Persemaian Akhir vase vegetatif :

  • Aplikasi insektisida dilakukan apabila terdapat 5 gejala penularan tungro dari 10.000 rumpun tanaman sat berumur 2 minggu setelah tanam (mst) atau gejala tungro dari 1000 rumpun tanaman saat berumur 3 mst.
  • Insektisida yang digunakan adalah imidakloprid, tirmetoksan, etofenproks, karbofuran.

f. Ganjur

  • Serangan hama ganjur biasanya terjadi pada musim hujan (januari).
  • Pengendaliannya dapat dilakukan dengan cara :
  • Menanam varietas tahan seperti : tajum atau galur yang mengandung OBS 677
  • Aplikasi insektisida karbofuran sebanyak 0,5 kg bahan aktif.

g. Keong Mas

Dapat dikendalikan dengan cara :

- Mekanis :

• Mengambil keong mas sebelum atau sesudah tanam
• Memasang jaringan pada pemasukan air untuk menjaring keong
• Mengumpan dengan menggunakan daun talas atau daun papaya
• Memasang ajir agar keong bertelur pada ajir dan telurnya dimusnahkan
• Mengambil telur keong dari tanaman untuk dimusnahkan.

- Kultur Teknis :

• Menanam bibit yang agak tua dan jumlah bibit lebih banyak
• Membuat caren sehingga keong masuk kedalam caren, diambil lalu diaplikasi pestisida
• Membersihkan saluran air dan tanaman air seperti kangkung
• Pemupukan dengan P dan K sebelum tanam
• Menebar benih lebih banyak untuk sulaman

- Kimiawi :

• Perlakuan benih dengan tipronol dapat mempercepat pemulihan dan mengkompensasi kehilangan anakan akibat serangan keong
• Aplikasi niklosamida sebanyak 1ppm pada caren, aplikasi sebaiknya dilakukan sebelum tanam
• Aplikasi pestisida nabati seperti tembakau, pinang, saponin, nenas sebanyak 2-50 kg/ha, diaplikasi sebelum tanam, dilakukan pula caren agar pemakaian pestisida dapat dihemat

12. Panen dan pasca panen

a. Pemanenan dan perontokan :

Tanaman dipanen pada masak fisiologis berdasarkan :

• Umur tanaman sesuai deskripsi varietas
• Kadar air gabah 20-26 %
• Umur mulai 30-35 hari setelah berbunga rata
• Penampakan mulai kuning 95%
• Pemanenan sebaiknya dilengkapi dengan system kelompok beranggotakan 30 orang (22 orang memotong padi, 5 orang mengumpulkan potongan padi, 3 orang merontok padi dan mengemas gabah dalam karung)
• Pemanenan sebaiknya dilengkapi dengan mesin perontok (power thresher)
• Alat panen di anjurkan menggunakan sabit bergerigi atau sabit biasa
• Cara panen sebaiknya dengan potong tengah atau bila gabah akan dirontok dengan pedal thresher
• Jika menggunakan power theresher, untuk menahan kerusakan gabah dan menghindari tercampurnya gabah dengan kotoran, putaran drum / silinderperontok harus dijaga pada saat beroperasi

b. Penjemuran/Pengeringan

  • Penjemuran/pengeringan pada lantai tanah harus menggunakan alas berupa tikar, bamboo, palstik atau terpal
  • Ketebalan gabah pada saat dijemur 5-7 cm dan pembalikan dilakukan setiap 2 jam
  • Suhu pengeringan dengan menggunakan mesin pengering (dryer) tidak boleh lebih dari 50˚C dengan laju pengeringan 1 % perjam
  • Suhu untuk pengeringan benih tidak boleh lebih dari 42ºC
  • Pengemasan dianjurkan menggunakan karung goni/plastik
  • Gabah disimpan pada kadar air 40 % menggunakan tempat/wadah yang bersih dan bebas hama
  • Gudang/lumbung penyimpanan memiliki sirkulasi udara, dinding dan lantainya dalam kondisi baik
  • Untuk memperoleh beras giling dengan mutu dan rendemen yang tinggi, beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain gabah harus seragam dan bersihdengan kadar air sekitar 14 % gabah yang telah disimpan di lumbung/gudang dijemur dulu untuk menurunkan kadar air sampai 12-14 % gabah yang baru dikeringkan diangin-anginkan untuk menekan butir pecah

Hasil Kajian di 2 Lokasi PTT di Sulawesi Selatan :

Tabel 1. Rata-rata Biaya Produksi dan Pendapatan Usahatani Petani PTT dan Non PTT pada Pengkajian PTT di Kab. Maros, MK 2001 dan MH 2001/2002

No Uraian Petani
PTT Non PTT
MK MH MK MH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Hasil (kg/ha)
Nilai hasil (Rp/ha)
Biaya Produksi
Pendapatan Usahatani (Rp/ha)
Biaya Produksi (Rp/kg gabah)
Nilai hasil (Rp/kg GKP)
6.537
6.537.000
2.700.610
3.836.390
413
1.000
6.498
6.498.000
2.583.659
3.914.341
398
1.000
5.762
5.762.000
2.429.359
3.333.641
422
1.000
5.506
5.506.000
2.280.239
3.225.761
414
1.000

Tabel 2. Rata-rata Biaya Produksi dan Pendapatan Usahatani Petani PTT dan Non PTT pada Pengkajian PTT di Kab. Gowa, MK 2001 dan MH 2001/2002

No Uraian Petani
PTT Non PTT
MK MH MK MH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Hasil (kg/ha)
Nilai hasil (Rp/ha)
Biaya Produksi
Pendapatan Usahatani (Rp/ha)
Biaya Produksi (Rp/kg gabah)
Nilai hasil (Rp/kg GKP)
7.972
9.327.000
3.114.295
6.212.945
391
1.170
6.971
8.156.070
2.562.182
5.593.888
368
1.170
6.521
7.629.570
2.483.129
5.146.441
381
1.170
4.796
5.611.320
1.922.124
3.689.196
401
1.170

Tahun Terbit 2002 BPTP Sulawesi Selatan

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 05 Desember 2012 12:24
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com