Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Home |  Berita  | Peta Situs | English Version      

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Publikasi >> Panduan Petunjuk Teknis Brosur >> Pemanfaatan limbah kulit buah kakao sebagai pakan kambing


Sampul Brosur

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

I. PENDAHULUAN

Sub sektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan pertanian memiliki tantangan yang cukup besar dalam sumbangannya terhadap PDB pertanian. Sub sector peternakan pada Pelita V diproyeksikan dari 11,20 % menjadi 13,20 % pada Pelita VI. Pertumbuhan sub sector peternakan diharapkan mencapai 6,40 % pertahun. Hal ini dapat diupayakan melalui usaha diversifikasi, itensifikasi dan eksensifikasi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi (Soehadji, 1993).

Dengan meningkatnya jumlah penduduk, tingkat pengetahuan dan pendapatan perkapita, maka terjadi pergeseran permintaan terhadap daging berkualitas baik. Permintaan tersebut cenderung semakin meningkat, oleh karena itu peningkatan kualitas hasil ternak rakyat harus diupayakan.

Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia. Kakao termasuk salah satu komoditas andalan daerah, penyumbang utama perekonomian, penopang pembangunan. Luas areal pertanaman kakao di Sulawesi Selatan sekitar 115.098 ha, melibatkan 154.697 KK petani(Anonim, 1995), suatu jumlah yang cukup besar.  Hampir 60 % luas pertanaman kakao dijumpai di daerah mamuju, polmas, dan Luwu. Pada ketiga daerah inilah pemerintah daerah mencanangkan pengembangan kakao melalui program pengembangan kawasan yang dikenal dengan istilah (Mandalu (mandar-Luwu).
Poduktivitas kakao rakyat di Sulawesi Selatan sekitar 926 kg/ha, untuk Kabupaten Mamuju sekitar 946/kg/ha, Polmas 830 kg/ha dan Luwu sekitar 979 kg/ha (Anonim, 1995).
Sementara itu potensi produktivitas yang bias dicapai lebih dari 150 kg/h. Pemerintah mencangkan mengadakan perluasan  tanaman kakao rata-rata 4.92 % pertahun. Pada tahun 1997 perkebunan kakao di Sulawesi Selatan berkembang menjadi 168.447 ha dan menghasilkan kulit buah kakao sebanyak 88.504.365 ton segar (Nurhayu dkk, 1999). Dengan semakin meningkatnya produksi kakao baik oleh karena pertambahan luas areal pertanaman maupun yang disebabkan oleh peningkatan produksi persatuan luas, maka hal ini akan meningkatkan jumlah limbah buah kakao.

Limbah kulit buah kakao ini memiliki peranan yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan ternak ruminansia khususnya kambing, terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau rumput-rumputan terganggu pertumbuhannya, sehingga pakan hijauan yang tersdia kurang dan kualitasnya daerah. Akibat yang timbul adalah kekurangan pakan hijauan, mengingat ketersediaan hijauan pakan yang terbatas, maka langkah strategis yang dapat diambil adalah memanfaatkan limbah kulit kakao untuk paka ternak.

Salah satu bentuk pemanfaatan limbah agro industri dan bahan pakan non kompetitif namun berkulitas tinggi adalah pemanfaatan kulit buah kakao. Sejalan dengan berkembangnya produksi kakao di Indonesia maka sejak tahun 1990 telah ditemukan nilai tambah (Value Added) dari produk buak kakao.

Kulit buah kakao (Shel food husk) kandungan gizinya terdiri dari 88 % BK, 8 % PK, 40 % SK, 50,8 % TDN, dan penggunaannya oleh ternak ruminansia 30-40 % (Sunanto,1994). Selanjutnya dikatakan bahwa limbah kulit buah kakao yang diberikan secara langsung pada ternak justru akan menurunkan berat badan ternak, sebab kadar protein kulit buah kakao rendah, sedangkan kadar lignin dan selulosanya tinggi. Oleh karena itu sebaiknya sebelum digunakan sebagai pakan ternak perlu difermentasikan terlebih dahulu untuk menurunkan kadar lignin yang sulit dicerna oleh hewan dan untuk meningkatkan nilai nutrisi yang baik tapi ada batasan konsentrasi penggunaannya karena mengandung seyawa anti nutrisi theobromin. Selain sebagai pakan ternak, kulit buah kakao dapat digunakan sebagai pupuk dengan metode pengeringan menggunakan panas matahari, kemudian diabukan dalam tangki pengabuan. Abu yang didapatkan dapat dijadikan sebagai pupuk.

II. KANDUNGAN GIZI

Kulit buah kakao merupakan hasil samping dari pemrosesan biji coklat dan merupakan salah satu limbah dari hasil panen yang sangat potensial untuk dijadikan salah satu pakan ternak. Kulit buah kakao dapat menggantikan sumber-sumber energi dalam ransom tanpa mempengaruhi kondisi ternak (Smith dan Adegbola, 1982).

Kulit buah kakao merupakan unsure pokok yang menjadi system pokok pakan ternak (Roesmanto, 1991). Adapun kandungan gizi kulit buak kakao dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Gizi Kulit Buah Kakao

Komponen
1
2
3
• Bahan kering
• Protein kasar
• Lemak
• Serat kasar
• Abu
• BETN
• Kalsium
• Pospor
84,00 – 90,00
6,00 – 10,00
0,50 – 1,50
19,00 – 28,00
10,00 – 13,80
50,00 – 55,60
-
-
91,33
6,00
0,90
40,33
14,80
34,26
-
-
90,40
6,00
0,90
31,50
16,40
-
0,67
0,10

Keterangan :
1. Smith dan Adegbola (1982)
2. Amirroenas (1990)
3. Roesmanto (1991)

Kulit buah kakao mengandung alkaloid theobromin (3,7 – dimethylxantine) yang merupakan factor pembatas pada pemakain limbah kakao sebagai pakan ternak. Kandungan theobromin disajikan pada table.

Tabel 2. Kandungan Theobromin pada Bagian-Bagian Buah Kakao

Bagian Buah Kakao Kandungan theobromin (%)
- Kulit buah
- Kulit biji
- Biji
0,17 – 0,20
1,80 – 2,10
1,90 – 2,0

Sumber : Wong, dkk (1988)

III. METODE PELAKSANAAN

A. Syarat- syarat Kambing Yang Digunakan

Kambing yang digunakan adalah kambing jantan yang berumur 4-5 bulan. Adapun syarat- syarat kambing yang digunakan adalah :

• Kambing jantan berumur 4-5 bulan.
• Kondisi kambing adalah yang sedang tumbuh.
• Kambing sehat, tidak terserang penyakit.
• Kambing tidak cacat.
• Berasal dari keturunan yang bebas penyakit menular.
• Kemampuan menyesuaikan diri dengan pakan yang tersedia, baik.

B. Pembuatan Kandang

1. Syarat- Syarat Kandang

Kandang tidak kalah pentingnya dalam mencapai keberhasilan suatu usaha peternakan kambing. Oleh karena itu ada beberapa persyaratan untuk kandang kambing antara lain :
• Konstruksi kandang dibuat sesederhana mungkin dengan menggunakan bahan yang ada dilokasi peternakan itu sendiri, sehingga mudah didapat dengan harga yang murah tapi kuat dan tahan lama serta tidak mudah roboh.
• Tempat untuk kandang harus kering dan tidak boleh lembab, mendapat sinar matahari pagi yang cukup, dengan ventilasi yang baik, serta mudah diawasi.

2. Bagian- Bagian Kandang

Kandang kambing yang memenuhi syarat hendaknya terdiri dari beberapa bagian antara lain :
• Ruang Utama.
Adalah ruangan tempat ternak bergerak dan berbaring sewaktu istirahat. Ukuran seekor kambing dewasa membutuhkan tempat 1x1,5 m. Untuk 6 ekor kambing, maka luas ruangan adalah 1,5x 6m.
• Tempat Makan.
Dibuat menempel pada bagian depan kandang dengan ukuran25 cm, tinggi/ dalam 50 cm dan lebar bagian atas 50 cm. Jarak celah yang satu dengan yang lainnya untuk tempat keluar masuknya kepala kambing waktu makan adalah 20-30 cm. Sedangkan jarak antara dasar tempat makan  (palungan ) dengan lantai kandang adalah 25 cm (lampiran 1).
• Disamping itu kandang juga harus dilengkapi dengan tempat minum, pintu, tangga, tempat menyimpan makanan/ hijauan dan tempat kompos.
• Kandang dibuat model panggung yaitu lantai agak tinggi dari tanah (± 30 cm ), bercelah dengan lebar 1,5 cm.

C. Cara Membuat Pakan

Makanan pokok ternak kambing adalah rumput- rumputan dan berbagai jenis daun- daunan. Untuk menggunakan limbah kulit kakao sebagai pakan alternatif maka ada beberapa yang harus diperhatikan dalam hal membuat pakan tersebut :

• Kumpulkan limbah kulit buah kakao dari hasil panen.
• Kulit buah kakao dijemur pada panas matahari sampai kering yang ditandai dengan cara : mudah dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas
• Setelah kering kulit buah kakao tersebut ditumbuk.
• Kemudian dilakukan pengayakan.
• Campurkan kulit buah kakao dengan dedak/ bekatul, jagung giling, dll

Skema Pembuatan Pakan :

Skema

 

 

 

 

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 1

 

 

 

 

 

 

 

Kulit buah kakao yang masih basah dijemur pada panas matahari sampai kering.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 2

 

 

 

 

 

 

 

Kulit buah kakao yang sudah kering ditandai dengan cara : mudah dipatahkan atau mudah hancur kalau diremas.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 3

 

 

 

 

 

 

 

Kulit buah kakao yang sudah kering kemudian ditumbuk dengan menggunakan lesung.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 4

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kulit buah kakao yang sudah ditumbuk selanjutnya diayak.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 5

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pencampuran pakan ternak kambing yang terdiri atas 15% kulit buah kakao, 35% bekatul, dan 30% jagung giling.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 6

 

 

 

 

 

 

Pemberian pakan ternak kambing sebanyak 200 gram per ekor per hari dan diberikan pada pagi hari sebelum ternak mengkonsumsi hijauan.

Foto sosialisasi dan diseminasi pemanfaatan limbah kakao

Gambar 7

 

 

 

 

 

 

 

 

Penimbangan berat badan ternak yang dilakukan oleh petugas dari IPPTP Makassar bersama- sama dengan petani kooperator.

D. Cara Pemberian Pakan

Pemberian pakan berupa kulit buah kakao  dapat dilakukan sebagai berikut :

• Tepung kulit buah kakao dicampur dengan bekatul dan jagung giling masing- masing 15%, 35%, dan 30% dari jumlah ransum, diberikan sebanyak 200 gr/ek/hr pada pagi hari sebelum ternak mengkonsumsi hijauan.
• Pakan yang telah dicampur diberikan satu kali setiap hari sebelum ternak mengkonsumsi hijauan.
• Kemudian diberikan pakan hijauan segar secara adlibitum ( tidak terbatas )

VI. HASIL YANG DIPEROLEH

A. Pertambahan berat badan ternak kambing yang berada didesa Ongko dan desa Baruga Dua

Pertambahan berat badan ternak kambing yang berada di dusun panggalo, Desa Ongko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polmas menunjukkan pertambahan berat badan rata- rata 0,239 kg/hr/ek. Sedangkan untuk ternak kambing yang berada di Desa Baruga Dua, Kecamatan Banggae, Kabupaten  Majene menunjukkan pertumbuhan berat badan rata- rata 0,184 kg/hr/ek. Untuk lebih jelasnya pertambahan berat badan dapat dilihat pada tabel berikut ini

Tabel 3. Data Pertambahan Berat Badan Ternak Kambing yang berada di Desa Ongko, Kecamatan Campalagian dan Desa Baruga Dua, Kecamatan Banggae, Kabupaten  Majene

No Uraian
Rata- rata ( kg/hr/ek )
Polmas Majene
1 Berat badan ternak kambing percobaan
• Berat badan awal 12,875 kg
16,00 kg
• Berat badan akhir 20,067 kg 
21,53 kg
• Pertambahan berat badan 0,23 0,184
2
Berat badan ternak kambing kontrol
• Berat badan awal
12,325 kg
15,11 kg
• Berat badan akhir
15,797 kg
18,117 kg
• Pertambahan berat badan
0,112
0,097


Selain pertambahan berat badan, maka ternak kambing yang  mengkonsumsi kulit buah kakao memperlihatkan performansi pada bulu yang mengkilat dan mata berbinar, ternak nampak lebih sehat serta lincah gerakannya.

B. Analisis Hasil Usaha

Untuk melihat apakah usaha tani ternak kambing ini menguntungkan atau tidak dengan menggunakan kulit buah kakao, maka dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4. Analisis Usahatani Ternak Kambing di desa Ongko dan    Desa Baruga Dua dengan Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao.

Jenis Masukan
Polmas Majene
Fisik Biaya (Rp)
Fisik
Biaya (Rp)
A. Investasi
• Pembuatan kandang
• Pembelian bibit
1 buah
6 ekor @ Rp.250.000
60.000
1.500.000
1 buah
6 ekor @ Rp. 350.000
60.000
2.100.000
Sub jumlah A
1.560.000
2.160.000
B. Operasional
• Pakan/konsentrat
• Obat-obatan
• Tenaga kerja
105.300
20.000
180.000
105.300
20.000
180.000
Sub jumlah B
305.300
305.300
Total Biaya (A+B)
1.865.300
2.465.300
C. Hasil
• Penjualan Ternak
• Pupuk Kandang
6 ekor @ Rp 450.000
350 kg (basah) @ Rp 3.000
2.700.000
52.500
6 ekor @ Rp 550.000
125 kg (kering) @ Rp 5.000
Total Hasil
2.752.500
3.331.250
Keuntungan
887.200
865.950
R/C ratio
1,47
1.35


Tabel 5. Analisa usahatani ternak kambing Didesa Ongko dan Desa Baruga Dua tidak menggunakan limbah kulit buah kakao.

Jenis Masukan
Polmas Majene
Fisik Biaya (Rp)
Fisik
Biaya (Rp)
A. Investasi
• Pembuatan kandang
• Pembelian bibit
1 buah
6 ekor @ Rp.250.000
50.000
1.500.000
1 buah
6 ekor @ Rp. 350.000
66.600
2.100.000
Sub jumlah A
1.550.000
2.166.600
B. Operasional
• Pakan/konsentrat
• Obat-obatan
• Tenaga kerja
20.000
10.000
180.000
17.500
52.000
180.000
Sub jumlah B
210.000
249.550
Total Biaya (A+B)
1.760.000
2.416.150
C. Hasil
• Penjualan Ternak
• Pupuk Kandang
6 ekor @ Rp 350.000

2.100.000
3.000
6 ekor @ Rp 550.000
125 kg (kering) @ Rp 5.000
3.000.000
3.000
Total Hasil
2.103.000
3.003.000
Keuntungan
343.000
586.850
R/C ratio
1,19 1.24


Dari Tabel 4 dan Tabel 5 terlihat bahwa ternak kambing dengan menggunakan kulit buah kakao maka penerimaan yang diperoleh dari penjualan ternak kambing di Desa Ongko selama pemeliharaan 4 (empat) bulan adalah Rp. 2.752.000. sedangkan penerimaan di desa Baruga Dua sebesar Rp. 3.331.250. Penerimaan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan ternak kambing yang dipakai sebagai control, yaitu sebesar Rp. 2.103.000 (Desa Ongko) dan Rp. 3.003.000 (Desa baruga Dua).

Keuntungan yang diperoleh peternak yang berada di Desa Ongko dan baruga Dua masing-masing Rp 887.200 dan Rp. 834.700, sedangkan ternak control Rp 343.000 dan Rp 586.850

Adapun keuntungan perekor selama 4 (empat) bulan pemeliharaan yang diperoleh di Desa Ongko dan desa baruga masing-masing Rp 147.866 dan Rp. 139.116.

Berdasarkan hasil perhitungan analisis usahatani ternak kambing yang berada di Desa Ongko dan Desa Baruga Dua mempunyai Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) masing-masing sebesar 1,47 dan 1,35. hal ini menunjukkan bahwa usahatani ternak kambing yang dialokasikan di dua tempat menunjukkan hasil yang menguntungkan. Sehingga diharapkan kegiatan ini dapat diadopsi dan disosialisasikan ke petani kooperator maupun non kooperator.

V. ANALISA DAMPAK

Peningkatan komunikasi melalui pembinaan yang intensif terhadap petani tampak berdampak positis terhadap penyerapan teknologi. Selanjutnya, serapan teknologi yang baik berdampak pula pada peningkatan hasil dan pendapatan.

Dari hasil responden sebanyak 46 keluarga untuk Desa Ongko dan 43 keluarga untuk Desa baruga Dua terlihat bahwa petani yang selalu memberi kulit buah kakao di Desa Ongko sebesar 13 % dan 67 % di desa baruga Dua. Pemberian dalam bentuk segar di Desa Ongko sekitar 100 % dan pemberian dalam bentuk tepung 74 % pada Desa baruga Dua.

Hasil analisa responden tersebut menunjukkan bahwa pemberian kulit buah kakao terhadap ternak kambing, sebagian besar petani sudah memberikan kepada ternaknya, dimana pemberian dalam bentuk segar maupun dalam bentuk tepung. Hal ini disebabkan karena pemberian pakan berupa kulit buah kakao dalam bentuk segar lebih mudah didapatkan dibandingkan dalam bentuk lainnya.. Hanya saja pemberian dalam bentuk segar  dapat mengakibatkan keracunan pada ternak, karena adanya alkaloid theobromin dimethyantine yang merupakan factor pembatas pada pemakaian limbah kakao senbagai pakan ternak, olehnya itu perlu adanya perlakukan khusus pada kulit buah kakao sebelum dikonsumsi oleh ternak kambing.

Manfaat pemberian kulit buah kakao dirasakan oleh petani, khususnya terlihat pada pertambahan berat badan ternak kambing yang mencapai 0,239 kg/hr/ek (Desa Ongko) dan 0,184 kg/hr/ek (Desa Baruga Dua) dibandingkan dengan ternak control pada dua lokasi tersebut masing-masing 0,112 kg/hr/ek dan 0,097 kg/hr/ek. Dengan adanya pertambahan berat badan tersebut maka berdampak pula pada harga penjualan ternak. .Dimana harga penjualan ternak kambing percobaan mencapai Rp. 450.000 (Desa Ongko) per ekor dan Rp. 550.000 (Desa Baruga Dua) per ekor lebih tinggi dibandingkan harga penjualan ternak kambing (kontrol) per ekor sebesar Rp. 350.000 (Desa Ongko) dan Rp. 500.000 (Desa Baruga Dua) .

Keuntungan yang diperoleh petani sebelum melakukan introduksi pemanfaatan limbah kakao sebesar Rp. 343.000 (Desa Ongko) dan Rp. 586.850 (Desa Baruga Dua) lebih rendah dibandingkan dengan keuntungan setelah melakukan introduksi sebesar Rp. 887.200 (Desa Ongko) dan Rp. 834.700 (Desa Baruga Dua). Selain dampak ekonomi, maka berdampak pula pada tanaman kakao sebagai penghasil limbah kulit buah kakao. Ternak yang mengkonsumsi kulit buah kakao akan mengeluarkan kotoran berupa hasil buangan dari pakan yang terkonsumsi. Kotoran tersebut akan dikembalikan pada tanaman kakao yang berfungsi sebagai pupuk.

Gambar Kandang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kandang yang memenuhi syarat.

 

Tahun Terbit 2001 BPTP Sulawesi Selatan

Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 05 Desember 2012 12:25
 

Joomla Templates by JoomlaVision.com